Jumat, 02 November 2012

Keluarga Bahagia : Dasar Kehidupan Perindukan Siaga




Penciptaan "lingkungan pendidikan yang sehat dan kondusif" merupakan salah satu syarat suksesnya sebuah proses pendidikan. Hal itu karena lingkungan merupakan faktor yang akan mendasari apakah sebuah "interaksi" pendidikan dapat berlangsung dengan baik atau tidak. Lingkungan pendidikan yang buruk akan melahirkan sebuah proses pendidikan yang buruk juga. Lingkungan pendidikan terbentuk oleh interaksi berbagai faktor seperti : konsep kependidikan, sarana prasarana, perilaku dan kreativitas pembina, metode dan materi latihan, hubungan antara peserta didik, pendidik, dengan orang tua, dsb.  

Perindukan  sebagai lingkungan pendidikan Pramuka Siaga  dikonsepkan sebagai sebuah lingkungan keluarga bahagia. Dalam lingkungan seperti ini interaksi antara orang tua dengan putra-putrinya harus dapat berlangsung dalam suasana yang sehat, menyenangkan namun dapat fokus mengarah kepada tujuan dan cita-cita mulia berupa tercapainya masa depan yang lebih baik.

Kita tentu dapat merasakan, bagaimana yang dikatakan "keluarga Bahagia” itu ? Pada umumnya keluarga bahagia itu terdiri dari seorang ayah, seorang ibu dan beberapa orang putra. Ada kalanya ikut serta dalam keluarga itu seorang paman dan seorang bibi, nenek dan kakek. Suasana selalu harmonis. Mereka saling cinta mencintai, merekapun akrab dengan tetangga sekitarnya. wajah ceria selalu mengiringinya di manapun mereka berada. Merekapun merupakan keluarga yang penuh taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Mereka merasa gembira aman, lahir dan batinnya jauh dari perasaan takut karena mereka merasa selalu dengan Tuhan-Nya- Mereka beramal dan berkelakuan sesuai dengan ajaran agamanya.

"Keluarga bahagia,' inilah yang menjadi latar belakang latihan Putra-putra Siaga. Romantika keluarga bahagia inilah yang kita alihkan ke lapangan terbuka dan yang melatar belakangi dinamika latihan Siaga. Suasana harmonis, riang gembira, penuh kerukunan, saling tolong menolong, saling cinta mencintai dan penuh keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT  inilah kita pindahkan dari rumah ke alam terbuka, ke alam bebas, ke padang rumput.

Di sini juga ada ayah yang dipanggil “Yanda” di sini ada ibu dengan panggilan "Bunda". Paman dan bibi juga ada di alam terbuka dengan panggilan "Pak Cik" dan "Bu Cik". Di alam bebas ini, juga ada si "Sulung" saudara tertua dan tergiat di antara para Siaga.

Dalam alam terbuka inilah Yanda bersama-sama Pak Cik dan Bu Cik serta para Siaga berlatih dengan riang gembira rukun, damai, bermain dan berlomba bersama dalam keluarga bahagia dalam perindukan Siaga. Latihan yang dibagun dan disemaikan dalam suasana kekeluargaan dengan penuh keceriaan dan kegembiraan, suasana kekeluargaan yang penuh rasa kasih sayang antara anggota keluarga itulah merupakan sumber jiwa, sumber hidup semai dan gerak maju perindukan Siaga. Pembina Siaga yang lupa akan hal yang sangat penting ini, akan salah menempatkan titik berat pentingnya "Jiwa" di atas raganya, atau menganggap Perindukan Siaga hanya sekedar sekumpulan anak-anak biasa.

Pembina Siaga semacam ini akan salah jalannya dalam bidang kesiagaan. Pramuka Siaga adalah anak pramuka yang masih muda, yang bergembira dan bahagia, dengan tata tertib yang timbul dari hati kasih sayang dan saling percaya mempercayai antar anggota perindukan satu dengan anggota perindukan lainnya termasuk di dalamnya Pembina perindukan beserta pembantu-pembantunya.

Suasana "Keluarga Bahagia" inilah yang dijadikan Kiasan Dasar dan Dasar Latihan bagi Perindukan Siaga. Ada suasana bebas, rukun, riang gembira di alam terbuka, di luar rumah dan di luar sekolah.

 

Lihat topik/entri terkait :
Sumber :
Buku, Pedoman Pembina Siaga, Kwarnas Gerakan Pramuka, Jakarta 1983
dan berbagai sumber lainnya.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar