Jumat, 31 Mei 2013

Taksonomi Blomm : Alat Bantu Merumuskan Tujuan Latihan Kepramukaan




Tujuan Pendidikan Kepramukaan
Tujuan Pendidikan Kepramukaan, sebagaimana tercantum dalam pasal 4  Anggaran Rumah Tangga Gerakan Pramuka (Keputusan Kwarnas Gerakan Pramuka No. 203 tahun 209) adalah : terwujudnya kaum muda lndonesia yang dipersiapkan menjadi:
  • Manusia yang berwatak, berkepribadian, berakhlak mulia, tinggi kecerdasan dan keterampilannya serta sehat jasmaninya;
  • Warga Negara yang berjiwa Pancasila, setia dan patuh kepada Negara Kesatuan Republik lndonesia serta menjadi anggota masyarakat yang baik dan berguna, yang dapat membangun dirinya sendiri secara mandiri serta bersama-sama bertanggungjawab atas pembangunan bangsa dan negara, memiliki kepedulian terhadap sesama hidup dan alam lingkungan baik tingkat lokal, nasional, maupun internasional.
Untuk mencapai tujan besar tersebut maka terdapat pula tujuan pendidikan untuk tiap satuan seperti tujuan pendidikan Pramuka Siaga, tujuan pendidikan Pramuka Penggalang, tujuan pendidikan Pramuka Penegak dan Pandega, tujuan pendidikan satuan karya, tujuan Dewan Kerja, dsb. Tujuan pendidikan di tiap satuan tersebut selanjutnya diterjemahkan dalam tujuan pembinaan atau latihan mingguan dan tujuan kegiatan. Dengan demikian tujuan pendidikan kepramukaan hanya bisa dicapai manakala tujuan pendidikan di tingkat satuan dan tujuan pendidikan ditiap latihan atau kegiatan juga tercapai.

Banyak cara yang bisa dilakukan oleh para Pembina Pramuka dalam menyusun tujuan latihan mingguan atau tujuan kegiatan. Salah satu cara yang bisa dijadikan rujukan dalam penyusunan tujuan latihan adalah dengan menggunakan Taksonomi Blomm. 

Taksonomi Blomm 
Taksonomi adalah gambaran tingkatan atau klasifikasi perilaku manusia yang dapat dikembangkan melalui proses pendidikan sehingga dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak baik menjadi baik,  dari tidak terampil menjadi terampil.

Taksonomi Bloom merujuk pada taksonomi yang dibuat untuk merumuskan tujuan pendidikan. Taksonomi ini pertama kali dikenalkan oleh  Benjamin S. Bloom pada tahun 1956. Dalam taksonomi ini  setiap tujuan pendidikan dibagi menjadi beberapa domain (ranah, kawasan) dan setiap domain tersebut dibagi kembali lebih rinci berdasarkan hirarkinya.

Tujuan Pendidikan
Berdasarkan taksonomi Bloom tujuan  pendidikan dibagi ke dalam tiga domain, yaitu:
  • Cognitive Domain (Ranah Kognitif), yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir.
  • Affective Domain (Ranah Afektif) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri.
  • Psychomotor Domain (Ranah Psikomotor) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik seperti tulisan tangan, mengetik, berenang, dan mengoperasikan mesin.
Terdapat pula beberapa istilah lain yang digunakan untuk menggambarkan ketiga domian tersebut di atas, seperti yang diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantoro,  denga sitilah  cipta, rasa, dan karsa. Selain itu, juga dikenal istilah: penalaran, penghayatan, dan pengamalan.

Dari setiap ranah tersebut dibagi kembali menjadi beberapa kategori dan subkategori yang berurutan secara hirarkis (bertingkat), mulai dari tingkah laku yang sederhana sampai tingkah laku yang paling kompleks. Tingkah laku dalam setiap tingkat diasumsikan menyertakan juga tingkah laku dari tingkat yang lebih rendah, seperti misalnya dalam ranah kognitif, untuk mencapai “pemahaman” yang berada di tingkatan kedua juga diperlukan “pengetahuan” yang ada pada tingkatan pertama.


Hirarki Taksonomi Bloom
Hirarki atau  pemisahan domain ini hanya buatan untuk memudahkan merumuskan tujuan pendidikan dan haisl akhir pendidikannya yang diinginkan agar lebih fokus. Hal itu karena pada dasarnya “manusia merupakan suatu kebulatan yang tidak dapat dipecah-pecah sehingga segala tindakannya juga merupakan suatu  bulatan”.

1. Domain Kognitif 
Bloom membagi domain kognisi ke dalam 6 tingkatan. Domain ini terdiri dari dua bagian:  Bagian pertama berupa Pengetahuan (kategori 1) dan bagian kedua berupa Kemampuan dan Keterampilan Intelektual (kategori 2-6) 
  • Pengetahuan (Knowledge) : Berisikan kemampuan untuk mengenali dan mengingat peristilahan, definisi, fakta-fakta, gagasan, pola, urutan, metodologi, prinsip dasar, dsb. Sebagai contoh, ketika diminta menjelaskan manajemen kualitas, orang yg berada di level ini bisa menguraikan dengan baik definisi dari kualitas, karakteristik produk yang berkualitas, standar kualitas minimum untuk produk. 
  • Aplikasi (Application) : Di tingkat ini, seseorang memiliki kemampuan untuk menerapkan gagasan, prosedur, metode, rumus, teori, dsb di dalam kondisi kerja. Sebagai contoh, ketika diberi informasi tentang penyebab meningkatnya reject di produksi, seseorang yg berada di tingkat aplikasi akan mampu merangkum dan menggambarkan penyebab turunnya kualitas dalam bentuk fish bone diagram. 
  • Analisis (Analysis) : Di tingkat analisis, seseorang akan mampu menganalisis informasi yang masuk dan membagi-bagi atau menstrukturkan informasi ke dalam bagian yang lebih kecil untuk mengenali pola atau hubungannya, dan mampu mengenali serta membedakan faktor penyebab dan akibat dari sebuah skenario yg rumit. Sebagai contoh, di level ini seseorang akan mampu memilah-milah penyebab meningkatnya reject, membanding-bandingkan tingkat keparahan dari setiap penyebab, dan menggolongkan setiap penyebab ke dalam tingkat keparahan yg ditimbulkan.  
  • Sintesis (Synthesis) : Satu tingkat di atas analisis, seseorang di tingkat sintesa akan mampu menjelaskan struktur atau pola dari sebuah skenario yang sebelumnya tidak terlihat, dan mampu mengenali data atau informasi yang harus didapat untuk menghasilkan solusi yg dibutuhkan. Sebagai contoh, di tingkat ini seorang manajer kualitas mampu memberikan solusi untuk menurunkan tingkat reject di produksi berdasarkan pengamatannya terhadap semua penyebab turunnya kualitas produk.   
  • Evaluasi (Evaluation) : Dikenali dari kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap solusi, gagasan, metodologi, dsb dengan menggunakan kriteria yang cocok atau standar yg ada untuk memastikan nilai efektivitas atau manfaatnya. Sebagai contoh, di tingkat ini seorang manajer kualitas harus mampu menilai alternatif solusi yg sesuai untuk dijalankan berdasarkan efektivitas, urgensi, nilai manfaat, nilai ekonomis, dsb.

2. Domain Afektif
Pembagian domain ini disusun Bloom bersama dengan David Krathwol, yang terdiri dari :
  • Penerimaan (Receiving/Attending) : Kesediaan untuk menyadari adanya suatu fenomena di lingkungannya. Dalam pengajaran bentuknya berupa mendapatkan perhatian, mempertahankannya, dan mengarahkannya.
  • Tanggapan (Responding) : Memberikan reaksi terhadap fenomena yang ada di lingkungannya. Meliputi persetujuan, kesediaan, dan kepuasan dalam memberikan tanggapan.  
  • Penghargaan (Valuing) : Berkaitan dengan harga atau nilai yang diterapkan pada suatu objek, fenomena, atau tingkah laku. Penilaian berdasar pada internalisasi dari serangkaian nilai tertentu yang diekspresikan ke dalam tingkah laku.  
  • Pengorganisasian (Organization) : Memadukan nilai-nilai yang berbeda, menyelesaikan konflik di antaranya, dan membentuk suatu sistem nilai yang konsisten. 
  • Karakterisasi Berdasarkan Nilai-nilai (Characterization by a Value or Value Complex) : Memiliki sistem nilai yang mengendalikan tingkah-lakunya sehingga menjadi karakteristik gaya-hidupnya.
     
3. Domain Psikomotor
Rincian dalam domain ini tidak dibuat oleh Bloom, tapi dibuat oleh ahli lain Simpson (1966) (Arikunto, 2009) dengan tetap mengacu pada apa yang telah dibuat Bloom
  • Persepsi (Perception) : Penggunaan alat indera untuk menjadi pegangan dalam membantu gerakan.
  • Kesiapan (Set) : Kesiapan fisik, mental, dan emosional untuk melakukan gerakan.  
  • Guided Response (Respon Terpimpin) : Tahap awal dalam mempelajari keterampilan yang kompleks, termasuk di dalamnya imitasi dan gerakan coba-coba. 
  • Mekanisme (Mechanism) : Membiasakan gerakan-gerakan yang telah dipelajari sehingga tampil dengan meyakinkan dan cakap. 
  • Respon Tampak yang Kompleks (Complex Overt Response) : Gerakan motoris yang terampil yang di dalamnya terdiri dari pola-pola gerakan yang kompleks. 
  • Penyesuaian (Adaptation) : Keterampilan yang sudah berkembang sehingga dapat disesuaikan dalam berbagai situasi.
  • Penciptaan  (Origination) : Membuat pola gerakan baru yang disesuaikan dengan situasi atau permasalahan tertentu.

Kata Kerja Operasional
Kata Kerja Operasional adalah "kata-kata" yang dapat dijadikan sebagai alat bantu  untuk merumuskan tujuan pendidikan. Kata Kerja Operasional mencerminkan  perubahan perilaku yang diinginkan setelah peserta didik mengikuti latihan kepramukaan. Kata kerja operasional juga  dapat diukur sehingga dapat dijadikan sebagai alat evaluasi atau bahan observasi. (selengkapnya lihat, entri/topik : Kata Kerja Operasional alat Bantu Merumuskan Tujuan Latihan Kepramukaan)


Lihat topik/Entru terkait :


Sumber :
ART Gerakan Pramuka (Keputusan Kwarnas Gerakan Pramuka No. 203 tahun 209)



Lord Baden-Powell : Pesan Terakhir





Pandu-pandu yang kucinta :

Jika kamu pernah melihat sandiwara “Peter Pan”, maka kamu akan ingat, mengapa pemimpin bajak laut selalu membuat pesan-pesannya sebelum ia meninggal, karena ia takut, kalau-kalau ia tak akan sempat lagi mengeluarkan isi hatinya, jika saat ia menutup matanya telah tiba.

Demikianlah halnya dengan diriku.
Meskipun waktu ini aku belum akan meninggal, namun saat itu akan tiba bagiku juga.
Oleh karena itu aku ingin menyampaikan kepadamu sekedar kata perpisahan untuk minta diri ...

Ingatlah, bahwa ini adalah pesanku yang terakhir bagimu.
Oleh karena itu renungkanlah!

Hidupku adalah sangat bahagia dan harapanku mudah-mudahan kamu sekalian masing-masing juga mengenyam kebahagiaan dalam hidupmu seperti aku.

 Saya yakin, bahwa Tuhan menciptakan kita dalam dunia yang bahagia ini untuk hidup berbahagia dan bergembira. Kebahagiaan tidak timbul dari kekayaan, juga tidak dari jabatan yang menguntungkan, ataupun dari kesenangan bagi diri sendiri.

Jalan menuju kebahagiaan ialah membuat dirimu lahir dan batin sehat dan kuat pada waktu kamu masih anak-anak, sehingga kamu dapat berguna bagi sesamamu dan dapat menikmati hidup,
jika kamu kelak telah dewasa.

Usaha menyelidiki alam akan menimbulkan kesadaran dalam hatimu,
betapa banyaknya keindahan dan keajaiban yang diciptakan oleh Tuhan di dunia ini supaya kamu dapat menikmatinya!

Lebih baik melihat kebagusan-kebagusan pada suatu hal dari pada mencari kejelekan-kejelekannya. Jalan nyata yang menuju ke kebahagiaan ialah membahagiakan orang lain. Berusahalah agar supaya kamu dapat meninggalkan dunia ini dalam keadaan yang lebih baik daripada tatkala kamu tiba di dalamnya.

Dan bila giliranmu tiba untuk meninggal, maka kamu akan meninggal dengan puas,
karena kamu tak menyia-nyiakan waktumu, akan tetapi kamu telah mempergunakannya
dengan sebaik-baiknya.

Sedialah untuk hidup dan meninggal dengan bahagia.
Masukkanlah paham itu senantiasa dalam Janji-Pandumu -
meskipun kamu sudah bukan kanak-kanak lagi -
 dan Tuhan akan berkenan mengaruniai pertolongan padamu dalam usahamu.



Temanmu,

Baden-Powell of Gilwell
(Ditemukan diantara kertas-kertas Baden-Powell sepeninggalnya, pada 8 Januari 1941).




Lihat topik/entri terkait :
Lord Baden-Powell of Gilwell 1857-1941 : Bapak Pandu Dunia


Sumber :
"Memandu untuk Putra" Kwarnas Gerakan Pramuka, Jakarta 1982

Lord Baden-Powell of Gilwell (1857-1941) : Bapak Pandu Dunia



Pengantar
Untuk dapat mengenal Gerakan Kepanduan lebih dalam, maka harus tahu tentang orang yang mendirikan Gerakan Kepanduan, salah seorang yang sungguh-sungguh dapat disebut “boy-man” (orang dewasa bersemangat muda), yang pemah ada di dunia yaitu Lord Baden-Powell of Gilwell, Bapak Pandu Sedunia, sangat terkenal oleh semua Pandu sebagai “BP”.

Robert Stephenson Smyth Baden-Powell dilahirkan di London, Inggris, pada 22 Februari 1857 – ialah hari di mana orang-orang Amerika merayakan hari ulang tahun George Washington yang ke-125. Ayahnya iahh Domine H.G. Baden-Powell, Profesor di Oxford. Ibunya adalah putri Admiral Inggris W.T. Smyth. Moyangnya, tetapi kembali ke Inggris dan mendapat kecelakaan di laut dalam perjalanannya pulang. Jadi Baden-Powell itu dari pihak satu adalah keturunan seorang alim dan dari pihak yang lain dari seorang kolonis di Dunia Baru, yang penuh pengalaman. 

Masa Muda “BP”
Ayahnya meninggal ketika Robert kurang lebih berumur tiga tahun, meninggalkan ibunya dengan tuiuh anak di bawah umur empat belas tahun. Sering kali keluarga yang besar itu mengalami kesukaran-kesukaran, tetapi berkat cinta kasih sang ibu terhadap anak-anaknya, dan cinta kasih anak-anak terhadap ibunya, segala kesulitan dapat diatasi. Dengan keempat saudaranya laki-laki Robert mengalami hidup gilang-gemilang, di alam luar dengan jalan mengembara dan berkemah di berbagai tempat di Inggris.

Pada tahun 1870 B.P. masuk Charterhouse School di London dengan bea siswa. Ia bukan seorang pelajar yang luar biasa, tetapi ia adalah salah seorang yang giat. Ia selalu menjadi pusat perhatian, yang memegang peranan, jika ada sesuatu di halaman sekolah, dan segera menjadi terkenal karena kecakapannya sebagai keeper kesebelasan Charterhouse. Kecakapannya bermain sandiwara sangat digemari oleh teman-temannya sekolah. Sewaktu-waktu diminta, ia mengadakan suatu pertunjukan, yang akan menggemparkan seluruh sekolah. Ia juga gemar akan musik dan bakatnya akan menggambar kemudian memungkinkannya menghiasi karangan-karangannya sendiri.

“BP” di India
Pada usia 19 tahun B.P. tamat belajar pada Charterhouse dan segera sesudah ada kesempatan, ia pergi ke India sebagai pembantu letnan, dan masuk resimen, yang membentuk sayap kanan dari barisan berkuda dalam "Charge of the Light Brigade" yang terkenal dalam Perang Krim. Kecuali menjalankan tugas kewajibannya yang gilang-gemilang dalam ketentaraan – ia menjadi Kapten pada usia dua puluh enam tahun – itu memperoleh piala olah raga yang sangat dihargai diseluruh India – yang untuk “pigsticking”, ialah memburu babi hutan, berkuda dengan sebuah tombak pendek sebagai satu-satunya senjata. Kamu akan sadar, betapa besar bahayanya pemburuan ini, kalau tahu, bahwa babi hutan sering dikatakan sebagai ”satu-satunya binatang, yang berani minum air bersama-sama dengan seekor harimau dari satu telaga.”

Berperang di Afrika
Pada tahun 1887 kita mendapatkan B.P. di Afrika, ikut serta dalam serangan terhadap orang-orang Zulu dan kemudian terhadap suku-suku bangsa Ashanti yang buas dan prajurit-prajurit Matabele yang kejam. Penduduk di situ begitu takut kepadanya, sehingga ia diberi sebutan ”Impeesa”, serigala yang tak pernah tidur, karena keberaniannya, kepandaiannya akan menyuluh serta kecakapannya akan menemukan jejak-jejak yang menggemparkan itu. Kenaikan pangkat Baden-Powell hampir diperoleh secara automatis, begitu teraturlah terjadinya sampai tiba-tiba ia menjadi termashur. 

Pada 1899 B.P. naik pangkat menjadi Kolonel
Di Afrika Selatan kesukaran makin hari makin bertambah. Hubungan antara pemerintah Inggris dan pemerintah republik Transval telah memuncak pada titik perpecahan. Baden-Powell diperintahkan supaya membentuk dua batalyon pemburu berkuda dan terus berangkat ke Mafeking, sebuah kota ditengah-tengah Afrika Selatan. “Siapa menduduki Mafeking, berkuasa di Afrika Selatan”, ujar orang-orang penduduk asli yang terbukti benar juga.

Pengepungn Mafeking
Perang pecah dan selama 217 hari – dari 13 Oktober 1899 - B.P. menduduki Mafeking dalam pengepungan oleh musuh, yang jumlahnya jauh lebih besar, sampai akhirnya pasukan-pasukan yang datang memberi pertolongan dapat menerobos jalan pada tanggal 18 Mei 1900.

Selama itu negeri Inggris menanti kesudahannya dengan rasa khawatir. Akhirnya, ketika datanglah berita: "Mafeking telah tertolong" maka negeri itu sangatlah gembira. Carilah “Mafeking” dalam kamusmu Bahasa Inggris, maka kamu akan mendapatkan disamping perkataan itu dua buah kata, terjelma pada hari yang penuh kegemparan itu, dari mana kota di Afrika Selatan," ujar orang-orang penduduk asli yang terbukti "riot-like celebration" atau "perayaan yang menggemparkan.B.P., yang sekarang telah naik pangkat menjadi Jenderal Mayor, adalah seorang pahlawan bangsanya.

Kepanduan Dilahirkan
Pada 1901 ia kembali sebagai seorang pahlawan ke Inggris dari Afrika Selatan, penuh dengan kehormatan dan ternyata inilah yangmenjadi keheranannya, bahwa terkenalnya sebagai perseorangan menyebabkan terkenalnya bukunya untuk orang-orang tentara, yaitu “Aids to Scouting” atau “Pedoman untuk Memandu”. Buku itu dipakai sebagai bacaan pada sekolah-sekolah laki-laki.

Di sini B.P. menyadari suatu panggilan. Ia sadar, bahwa disinilah ia mempunyai kesempatan akan menolong anak-anak negaranya supaya tumbuh menjadi orang yang kuat. Sebuah buku tentang Kepanduan bagi orang-orang laki-laki saja sudah dapat memanggil serta mendorong anak-anak, apalagi sebuah buku yang semata-mata ditulis bagi anak-anak itu sendiri!

Ia mulai bekerja dengan mempraktekkan pengalaman-pengalamannya di India dan di Afrika di antara orang Zulu dan suku-suku buas lain. Ia mengumpulkan suatu perpustakaan yang khusus dan membaca buku-buku mengenai latihan-latihan dari abad ke abad – dari anak-anak Sparta, orang-orang Inggris jaman dahulu, orang-orang Indian, sampai jaman sekarang ini.

Sedikit demi sedikit serta dengan seksama B.P. memperkembangkan pikiran akan Kepanduan. Ia hendak meyakinkan, bahwa pikirannya itu akan ada hasilnya juga, oleh karena itu pada musim panas tahun 1907 ia mengajak segerombolan dari duapuluh orang anak ke Brownsea Island di Terusan Inggris akan mengadakan perkemahan kepanduan pertama, yang pernah dilihat oleh dunia. Perkemahan itu terselenggara dengan hasil yang sangat baik.

“Scouting for Boys”
Dan kemudian, pada permulaan tahun 1908, tiga bulan sekali ia menerbitkan buku pedomannya untuk latihan-latihan, "Scouting for Boys", yang dihiasi, oleh ia sendiri - dengan tidak menyangka-nyangka, bahwa buku ini akan menimbulkan suatu Gerakan, yang meliputi anak-anak seluruh Dunia.
Baru saja buku "Scouting for Boys" ini mulai muncul dalam toko-toko buku serta tempat-tempat penjualan surat-surat kabar, mulailah timbul Regu-regu serta Pasukan-pasukan Kepanduan – bahkan  tidak di Inggris saja, melainkan dibanyak negeri-negeri lain.

Kehidupan B.P. Yang Kedua
Pergerakan makin hari makin berkembang dan pada tahun 1910 menjadi demikian luasnya, sehingga B.P. sadar, bahwa Kepanduan akan menjadi pekerjaannya selama hidup. Ia mempunyai pandangan serta keyakinan akan menyadari, bahwa ia akan lebih berjasa lagi bagi tanah airnya, apabila ia melatih para muda supaya menjadi warga negara utama, daripada melatih beberapa orang agar kelak dapat berperang. Dan oleh karena itu ia meletakkan jabatannya dalam ketentaraan, di mana ia telah menjadi Letnan Jenderal dan memasuki ”hidupnya kedua”, seperti disebutnya - hidupnya dalam pengabdian kepada dunia karena Kepanduan. Ia memetik buah usahanya dalam perkembangan pergerakan Kepanduan dan dalam cinta serta hormat anak-anak di seluruh dunia.

Persaudaraan Sedunia
Pada tahun 1912 ia mengadakan perjalanan keliling dunia untuk menemui para Pandu di berbagai negara. Ini adalah permulaan Kepanduan sebagai Persaudaraan Sedunia. Perang Dunia Pertama meletus dan memperhentikan pekerjaan ini sementara, tetapi dengan berakhirnya permusuhan, telah dimulai lagi, dan pada tahun 1920 para Pandu dari seluruh dunia berkumpul di London untuk pertemuan Kepanduan Internasional yang pertama - Jambore Se-dunia pertama. Pada malam yang terakhir dari Jambore itu, yaitu pada tanggal Agustus, B.P. diangkat menjadi “Chief Scout of the World”, “Bapak Pandu Seluruh Dunia” disambut dengan tepuk sorak riuh rendah oleh anak-anak yang berkumpul.

Pergerakan Kepanduan terus berkembang. Pada waktu mencapai umur duapuluh satu tahun, jadi ketika sudah menjadi “dewasa”, jumlah anggotanya, boleh dikatakan dinegara-negara di seluruh dunia yang sudah beradab mencapai lebih dari dua juta. Pada peristiwa itu B.P. dianugrahi oleh rajanya, George V, dengan julukan baron dengan nama Lord Baden-Powell of Gilwell ........ Meskipun demikian, bagi setiap pandu ia akan tetap: ,”B.P”, Bapak Pandu Seluruh Dunia.

Jambore sedunia yang pertama diikuti oleh Jambore-jambore lain – pada 1924 di Denmark, pada 1929 di Inggris, pada 1933 di Hongaria, pada 1937 di Negeri Belanda. Pada tiap-tiap Jambore itu Baden-Powell memegang peranan, dengan semangat dihormati oleh --- anak-anak-"nya", kemanapun ia pergi. Tetapi Jambore itu hanya merupakan sebagian dari usaha ke arah Persaudaraan Kepanduan Sedunia. B.P. sering kali bepergian untuk kepentingan Kepanduan, ia selalu mengadakan surat-menyurat dengan para Peminpin pandu diberbagai-bagai negara dan terus menulis tentang Kepanduan serta menghiasi karangan-karangannya dan buku-bukunya dengan gambarannya sendiri.

Masa Tua B.P.
Ketika akhirnya, setelah mencapai usaha delapan puluh tahun, kekuatannya mulai berkurang, ia kembali ke Afrika yang dicintainya, dengan isterinya, Lady Baden-powell, yang menjadi pembantunya yang bersemangat dalam segala usahanya dan menjadi pemimpin sendiri dari Kepanduan Putri Sedunia - suatu pergerakan yang dimulai juga oleh Baden-Powell. Mereka bertempat tinggal di Kenya, dalam suatu tempat yang tentram, dengan suatu pemandangan yang indah melalui rimba-rimba yang sangat luas, menuju puncak-puncak gunung yang tertutup salju.
Disanalah B.P. meninggal dunia pada tanggal 8 Januari 1941 – sebulan lebih sedikit sebelum ulang tahunnya kedelapan puluh empat.


Sumber :
"Memandu Untuk Putra"  Kwarnas Gerakan Pramuka, Jakarta 1982

Jumat, 24 Mei 2013

Dongeng Boneka sebagai Media Pendidikan Kepramukaan




Pengantar

Perkembangan zaman melahirkan tuntutan, aspirasi, motivasi dan harapan-harapan  baru  para peserta didik dalam mengikuti kegiatan kepramukaan. Para Pembina Pramuka diharapkan mampu memenuhi tuntutan tersebut dengan terus-menerus melakukan inovasi agenda,  metode dan penggunaan media latihan kepramukaan. Tanpa upaya seperti itu akan menyebabkan hilangnya antusiasismenya peserta didik dalam mengikuti kegiatan dan latihan pramuka.

Mendongeng dengan boneka merupakan salah satu media pendidikan yang bisa digunakan oleh para Pembina Pramuka untuk menghadirkan latihan pramuka yang menyenangkan dan menggairahkan. Pemakaian boneka sebagai media pendidikan populer sejak tahun 1940-an terutama ketika mulai banyak digunakan di sekolah dasar dan sekolah lanjutan di Amerika. Bahkan di daratan Eropa seni pembuatan boneka telah sangat tua, lebih tinggi kehaliannya  dan sangat populer penggunaanya sebagai media pendidikan di bandingkan di Amerika.

Di Indonesia penggunaan boneka sebagai media pendidikan massa juga sudah sejak lama dilakukan di tengah masyarakat. Di Jawa Barat dikenal dengan tradisi boneka tongkat berbentuk “Wayang Golek” yang dipakai untuk memainkan dan menyampaikan pesan-pesan moral cerita Mahabarata dan Ramayana. Di Jawa Timur dan Jawa Tengah dikenal pula boneka tongkat dengan dua dimensi dibuat dari kayu yang disebut “Wayang Krucil”. Di dua wilayah ini dikenal pula boneka bayang-bayang yang disebut “Wayang Kulit”. Disamping itu terdapat  berbagai jenis tradisi cerita lain berbasis boneka yang tersebar di seluruh nusantara.


Boneka sebagai Media Pembelajaran

Boneka adalah tiruan dari bentuk manusia dan bentuk  binatang. Boneka manusia merupakan model dari manusia, atau yang menyerupai manusia sangat banyak bentuk dan ragamnya. Boneka  hewan merupakan model dari hewan dengan beragam bentuk dan perbandingan. Awalnya  boneka hanya merupakan benda dekorasi atau koleksi untuk anak yang sudah besar atau orang dewasa dan sebagai media permainan untuk anak-anak perempuan.

Bentuk boneka yang sangat menarik minat anak-anak melahirkan ide penggunaan boneka sebagai media pembelajaran dengan cara dimainkan dalam sandiwara boneka. Boneka sebagai media cerita memiliki banyak kelebihan dan keuntungan. Anak-anak  pada umumnya menyukai boneka, sehingga cerita  yang dituturkan lewat karakter boneka jelas akan mengundang minat dan perhatiannya. Anak-anak juga bisa terlibat dalam permainan boneka dengan ikut memainkan boneka dalam sebuah dongeng atau cerita. Hal ini berarti, boneka bisa menjadi pengalih perhatian anak  sekaligus media untuk berekspresi  atau  menyatakan  perasaannya.  Bahkan  boneka  bisa  mendorong tumbuhnya fantasi atau imajinasi anak.

Mendongeng dengan alat peraga boneka, memerlukan sedikit keterampilan karena tokoh yang akan dibawakan atau boneka yang dipegang harus sesuai dengan karakter dalam cerita. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan, ketika mendongeng dengan alat peraga boneka:
  • Jarak boneka tangan harus agak jauh dari mulut.
  • Kedua belah tangan harus lentur dalam memainkan boneka.
  • Bisa diiringi dengan musik untuk menambah suasan.
  • Libatkan anak-anak dalam adegan cerita yang dibawakan.
  • Sesekali adakan dialog antara tokoh boneka dan pendengar atau penonton.
  • Suara karakter dari tokoh cerita dongeng harus pas sesuai peran.
  • Ajak pendengar atau penonton bernyanyi bersama boneka guna memperoleh keterikatan dalam cerita dongeng.
  • Seusai mendongeng jangan lupa ulas pesan yang terkandung dalam dongeng tersebut; boneka seolah-olah berbicara pada anak-anak (pendengar atau penonton).


Manfaat Mendongeng dengan Boneka

Manfaat mendongen atai cerita boneka sebagai media pendidikan  sudah sangat banyak dibahas oleh para ahli.  Umumnya para ahli menyatakan bahwa  dongeng  sangat bermanfaat bagi pengembangan anak. Dongen  sebagai media belajar  juga dapat melahirkan suasana belajar yang menyenangkan, interaktf, inspiratif dan motivatif.  Manfaat dongen secara lebih luas adalah :

  • Membantu pembentukan pribadi dan moral anak. Cerita sangat efektif membentuk pribadi dan moral anak. Melalui cerita, anak dapat memahami nilai baik dan buruk yang berlaku pada masyarakat.
  • Menyalurkan kebutuhan imajinasi dan fantasi. Cerita dapat dijadikan sebagai media menyalurkan imajinasi dan fantasi anak. Pada saat menyimak cerita, imajinasi anak mulai dirangsang. Imajinasi yang dibangun anak saat menyimak cerita memberikan pengaruh positif terhadap kemampuan anak dalam menyeelesaikan masalah secara kreatif.
  • Memacu kemampuan verbal anak. Ceritadapat memacu kecerdasan linguistik anak. Cerita mendorong anak bukan saja senang menyimak cerita tetapi juga senang bercerita atau berbicara. Anak belajar tata cara berdialog dan bernarasi.
  • Merangsang minat menulis anak. Anak yang terbiasaa memahami cerita dan lebih awal berkenalan dengan cerita akan memiliki kemampuan menulis dengan baik.
  • Merangsang minat baca anak. Kegiatan bercerita dengan buku menjadi ‘pelatihan” baca yang penting. Cerita akan menumbuhkan minat anak terhadap bacaannya.
  • Membuka cakrawala pengetahuan anak. melalaui cerita anak akan mendapatkan berbagai pengetahuan yang bermanfaat.

Jenis-jenis Boneka sebagai Media Pembelajaran 

Boneka jari

  • Boneka ini dibuat dengan alat sederhana seperti tutup botol, bola pingpong, kapas, dakron, gabus, bambu kecil, dll  yang dapat dipakai sebagai kepala boneka. Sesuai dengan namanya boneka ini dimainkan dengan menggunakan jari tangan. 
  • Cara memainkannya kepala boneka diletakkan pada ujung jari kita/ dalam. Dapat juga dibuat dari semacam sarung tangan, dimana pada ujung jari sarung ta-ngan tersebut sudah berbentuk kepala boneka dan dengan demikian kita/ dalam tinggal memainkannya saja.
      
    Boneka Tangan

    • Kalau boneka dari setiap ujung jari kita dapat memainkan satu tokoh, lain halnya dengan boneka tangan. Pada boneka tangan ini satu tangan kita hanya dapat memainkan satu boneka. Disebut boneka tangan, karena boneka ini hanya terdiri dari kepala dan dua tangan saja, sedangkan bagian badan dan kakinya hanya merupakan baju yang akan menutup lengan orang yang memainkannya disamping cara memainkannya juga hanya memakai tangan (tanpa menggunakan alat bantu yang lain).
    • Cara memainkanya adalah jari telunjuk untuk memainkan atau menggerakkan kepala, ibu jari, dan jari tangan untuk menggerakkan tangan. Di Indonesia penggunaan boneka tangan sebagai media pendidikan/ pembelajaran di sekolah-sekolah sudah dilaksanakan, bahkan dipakai diluar sekolah yaitu pada siaran TVRI dengan film seri boneka “Si Unyil” dan jiuga "Si Komo".
      
    Boneka Tongkat
    • Disebut boneka tongkat karena cara memainkannya dengan menggunakan tongkat. Tongkat-tongkat ini dihubungkan dengan tangan dan tubuh boneka. Wayang Golek di Jawa Barat misalnya adalah termasuk boneka jenis ini.
    • Untuk keperluan penggunaan boneka tongkat sebagai media pendidikan/ pembelajaran di sekolah, maka tokoh-tokohnya dibuat sesuai dengan keadaan sekarang. Misalnya dibuat tokoh tentara, pedagang, lurah, nelayan dan sebagainya Boneka tongkat dapat dibuat darikayu yang lunak seperti kayu kemiri, randu, dan sebagainya.

        Boneka Tali

        • Boneka tali atau “Marionet” banyak dipakai dinegara barat. Perbedaan yang menyolok antara boneka tali dengan boneka yang lain adalah, boneka tali bagian kepala, tangan, dan kaki dapat digerak-gerakkan menurut kehendak kita/dalangnya. 
        • Cara menggerakkannya dengan tali. Dengan demikian maka kedudukan tangan orang yang memain-kannya berada di atas boneka yang dimainkannya. Untuk memainkan boneka tali diperlukan latihan-latihan yang teratur, sebab memainkan boneka tali ini memerlukan keterampilan yang lebih sulit dibandingkan dengan memainkan boneka-boneka yang lainnya. Adakan tetapi memiliki kelebihan lebih hidup dari pada boneka yang lain, karena mendekati gerak manusia atau tokoh yang sebenarnya.

          Boneka Bayang-bayang
          • Boneka bayang-bayang (Sadhow Puppet) adalah jenis boneka yang cara memainkannya dengan mempertontonkan gerak bayang-bayang dari boneka tersebut. Di Indonesia khususnya di Jawa dikenal dengan “Wayang kulit” dengan latar ceita ramayana dan mahabarata.
          • Untuk keperluan pendidikan dapat diciptaka tokoh-tokoh baru dengan nuansa kekinian seperti polisi, tentara, pembina pramuka, orang tua, dsb. Untuk memainkan boneka ini diperlukan ruangan gelap/tertutup dan  lampu sorot untuk membuat bayang-bayang layar.


            Selamat Berekspresi. Salam Pramuka

            Lihat Entri/Topik Terkait :
            Dongeng Boneka Jari sebagai media Pendidikan Kepramukaan
            Dongeng Boneka Tangan sebagai media Pendidikan Kepramukaan
            Dongeng Boneka Tongkat sebagai media Pendidikan Kepramukaan
            Dongeng Boneka Tali sebagai media Pendidikan Kepramukaan
            Dongen Boneka Bayang-bayang sebagai media  Pendidikan Kepramukaan


            Sumber :
            www.griyabelanja.com
            www.satulingkar.com
            www.getscoop.com
            www.tradisidongen.blogspot.com
            www.aaps10.blogspot.com
            www.molylovelyme.blogspot.com














            Selasa, 21 Mei 2013

            Kompas, Penggunaannya dalam Kegiatan Kepramukaan





            Pengantar

            Kompas adalah alat penunjuk arah yang bekerja berdasarkan gaya medan magnet. Pada kompas selalu terdapat sebuah magnet sebagai komponen utamanya. Magnet tersebut biasanya berbentuk sebuah jarum penunjuk. Saat magnet penunjuk tersebut berada dalam keadaan bebas, maka akan mengarah ke utara-selatan magnet bumi. Inilah yang dijadikan dasar dalam pembuatan kompas dan alat navigasi berbasis medan magnet yang lain.

            Umumnya kompas terdiri dari 3 komponen kompas, yaitu badan kompas, jarum magnet, dan skala arah mata angin. Badan kompas berfungsi sebagai pembungkus dan pelindung komponen utama kompas. Jarum magnet dipasang sedemikian rupa agar bisa berputar bebas secara horizontal. Skala penunjuk umumnya berupa lingkaran 360° dan arah mata angin.

            Kompas sebagai alat penunjuk  arah mata angin sangat penting untuk para Pramuka dalam hal :
            • Membantu kelancaran dan keselamatan dalam pengembaraan karena para  Pramuka akan dapat mengikuti jalan yang tertera dalam peta sehingga tidak tersesat dijalan.
            • Membantu menentukan arah kiblat untuk kesempurnaan beribadah di alam bebas/di perkemahan bagi yang beragama Islam.
            • Menentukan arah datangnya sinar matahari untuk menentukan arah mendirikan tenda dan arah lokasi kegiatan di di pagi atau sore hari.
            • Membantu dalam pembuatan dan pembacaan peta pita dan atau peta perjalanan
            • Membaca peta medan atau peta topografi
            Oleh sebab kegunaannya yang sangat beragam tersebut maka para Pramuka seyogyanya memiliki kemampuan untuk menggunakan dan membaca kompas secara benar dan tepat. Disamping itu kegiatan menggunakan dan membaca kompas merupakan kegiatan yang menyenangkan, melatih ketelitian, kerjasama dan pengenalan medan/lokasi di alam bebas.


            Macam dan jenis kompas

            Kompas terdiri dari 3 jenis, yaitu kompas bidik (kompas prisma), kompas orientering (kompas silva), dan kompas biasa.

            • Kompas bidik atau prisma fungsi utamanya untuk mempermudah menghitung sudut sasaran bidik (tempat atau benda) secara langsung. Cara pemakaiannya dengan membidikkan kompas ke sasaran secara langsung sekaligus membaca sudut sasaran pada skala kompas. Besar sudut yang dibuat oleh arah bidikan dan arah jarum (utara) itulah sudut sasarannya (bearing).


            • Kompas silva atau orienteering fungsi utamanya untuk mempermudah perhitungan dan pembacaan pada peta secara langsung. Badan atau pembungkus kompas silva selalu dibuat transparan untuk mempermudah pembacaan peta yang diletakkan di bawahnya.


            • Kompas biasa adalah kompas yang hanya digunakan sebagai penunjuk arah dan bentuknya sederhana.

            Bagian-bagian penting dari Kompas Bidik :
            • Dial, adalah permukaan Kompas dimana tertera angka derajat dan huruf mata angin.
            • Visir, adalah lubang dengan kawat halus untuk membidik sasaran.
            • Kaca Pembesar, digunakan untuk melihat derajat Kompas.
            • Jarum Penunjuk, adalah alat yang menunjuk Utara Magnet.
            • Tutup Dial, dengan dua garis bersudut 45° yang dapat diputar.
            • Alat Penyangkut, adalah tempat ibu jari untuk menopang Kompas saat membidik.

            Cara Mempergunakan Kompas Bidik
            • Letakkan Kompas di atas permukaan yang datar, setelah jarum Kompas tidak bergerak maka jarum tersebut akan menunjukkan ARAH UTARA MAGNET.
            • Bidik sasaran melalui Visir, melalui celah pada kaca pembesar, setelah itu miringkan kaca pembesar kira-kira bersudut 50° dengan kaca dial.
            • Kaca pembesar tersebut berfungsi sebagai : (a) Membidik ke arah Visir, membidik sasaran, (b) Mengintai derajat Kompas pada Dial.
            • Apabila Visir diragukan karena kurang jelas terlihat dari kaca pembesar, luruskan garis yang terdapat pada tutup Dial ke arah Visir, searah dengan sasaran bidik agar mudah terlihat melalui kaca pembesar.
            • Apabila sasaran bidik 30° maka bidiklah ke arah 30°
            • Sebelum menuju sasaran, tetapkan terlebih dahulu Titik sasaran sepanjang jalur 30°.
            • Carilah sebuah benda yang menonjol/tinggi diantara benda lain disekitarnya, sebab rute ke 30° tidak selalu datar atau kering, kadang-kadang berbencah-bencah. Ditempat itu kita Melambung (keluar dari rute) dengan tidak kehilangan jalur menuju 30°.
            • Sebelum bergerak ke arah sasaran bidik, perlu ditetapkan terlebih dahulu Sasaran Balik (Back Azimuth atau Back Reading) agar kita dapat kembali ke pangkalan apabila tersesat dalam perjalanan.

            Rumus back azimuth/back reading

            1.    Apabila sasaran kurang dari 180° = di tambah 180° maka akan menjadi  180° = X + 180°
            2.    Apabila sasaran lebih dari 180° = di kurang 180°
            3.    Contoh : Sasaran balik dari
            • 30°      adalah    :    30° + 180°  = 210°
            • 240°    adalah    :    240° - 180°  = 60°
            • 45°, 34’, 20’’      adalah   : 225°    34’    20’’
            • 178°,  54’ , 14’’  adalah   : 001°    05’    45’’



              Arah mata angin dalam kompas
                • U         =   Utara                           : 0° atau 360°
                • UTL    =   Utara Timur Laut        : 22°     30’
                • TL       =   Timur Laut                  : 45°
                • TTL     =   Timur Timur Laut       : 67°    30’
                • T          =   Timur                          : 90°   
                • TMG    =   Timur Menenggara     : 112°    30’
                • TG       =   Tenggara                      : 135°
                • SMG    =   Selatan Menenggara   : 157°    30’
                • S          =   Selatan                        :180°
                • SBD    =   Selatan Barat Daya     : 202°    30’
                • BD      =   Barat Daya                  : 225°
                • B         =   Barat                           : 270°
                • BBL    =   Barat Barat Laut         : 292°    30’
                • BL       =   Barat Laut                  : 315°
                • UBL    = Utara Barat Laut          : 337°    30’

              Benda-benda lain yang dapat di gunakan untuk menentukan arah Mata Angin :
              • Matahari, terbit di Timur dan terbenam di Barat.
              • Masjid, sebagai kiblat menghadap Barat Laut.
              • Bintang, Rasi-rasi bintang pada malam hari.
              • Kuburan Islam, batu nisan membujur dari Utara Selatan.
              • Silet, jika diapungkan di atas air.

                Selamat Berlatih. Salam Pramuka

                Jumat, 17 Mei 2013

                Berkemah : Teknologi Sederhana Penjernih Air




                Pengantar
                 

                Kadangkala  ketika berkemah para Pramuka sulit menemukan air bersih untuk keperluan mandi, masak dan mencuci. Air bersih sulit didapatkan  salah satunya disebabkan rusaknya lingkungan terutama ruang terbuka hijau sehingga air hujan tidak lagi mampu diserap oleh tanah dengan baik yang berakibat mengecilnya sumber-sumber mata air.

                Ketiadaan air  bersih untuk masak memasak dapat menimbulkan  penyakit diare, penyakit lambung dan penyakit pencernaan lainnya. Hal itu karena air kotor seringkali tercemar bakteri salmonella, E-coli bakteri dan berbagai bakteri lainnya.

                Agar perkemahan dapat berjalan dengan  sehat, menyenangkan dan penuh kegembiraan maka para Pramuka dituntut mampu melakukan penjernihan air kotor dengan menggunakan teknologi sederhana. Banyak jenis teknologi sederhana penjernihan air yang bisa dipelajari dan dimanfaatkan oleh para Pramuka seperti penjernihan dengan menggunakan filter bahan-bahan alami di bawah ini. Penggunaan teknologi yang tepat akan dapat mengubah air kotor  menjadi air bersih yang layak dan sehat untuk dikonsumai.

                Bahan yang Dibutuhkan   
                • Dua buah drum
                • Pipa penghubung
                • Pasir
                • Arang
                • Kerikil

                Gambar  Alat Penjernih


                Cara kerja alat:
                • Air kotor dituangkan ke drum yang telah diberi filter dengan  lapisan pasir, arang dan kerikil. Lapisan pasir, arang, dan kerikil berfungsi untuk menghilangkan bakteri yang tercampur dalam air kotor tadi. 
                • Alirkan air bersih hasil penyaringan dengan pipa/selang ke drum penampungan air bersih. Air bersih hasil penyaringan akan menjadi air sehat untuk mandi, masak dan mencuci. Namun demikian jika akan diminum harus dimasak terlebih dahulu.
                • Jika aliran air bersih makin mengecil ganti atau bersihkan pasir, arang dan kerikil yang digunakan sebagai filter.
                • Ketersediaan air bersih akan mendukung kegiatan perkemahan yang sehat, menyenangkan, ramah lingkungan serta meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan para Pramuka dalam hal penerapan teknologi penjernihan air.


                Selamat mencoba. Salam Pramuka

                Lihat topik/entri terkait :
                Berkemah : Tenda Bentuk & Jenisnya
                Berkemah : Cara Membuat Dapur di Perkemahan
                Berkemah : Pasak Tenda Jenis & Pemakaiannya
                Berkemah : Penataan Lingkungan & Perlengkapannya
                Berkemah : Cara Mendirikan Tenda Pramuka
                Berkemah : Simpul & Ikatan Tali untuk Mendirikan Tenda



                Sumber
                http:// www.teknologisederhana.com/
                 

                Kamis, 16 Mei 2013

                Pembina Pramuka : Fungsi, Peran & Model Pembawaannya




                Funqsi dan Peran Pembina Pramuka

                Dalam mejalankan tugas sebagai pendidik yang menggunakan alam bebas sebagai sarana belajar, "Pembina" mempunyai beberapa fungsi dan peran. Fungsi-fungsi ini seringkali tidak dapat dipisahkan antara fungsi yang satu dengan fungsi yang lainnya serta digunakan bersamaan pada waktu dan saat yang tepat. Fungsi dan Peran Pembina tersebut adalah :
                1. Pengamat : Tugas seorang Pembina untuk mengamati dan memantau perkembangan dan tingkah laku individu dan dinamika kelompok. Dalam proses pengamatan ini, seorang pembina tentunya harus menyadari pentingnya membawa "note book" yang berguna untuk mencatat hal-hal yang penting selama pengamatan berlangsung.
                2. Keterampilan Pembina : Seorang pembina harus memastikan bahwa dalam melakukan kegiatan di alam bebas dapat berjalan dengan aman (berkemah, mendaki gunung, memanjat, rafting, snorkeling, dan sebagainya).
                3. Penjaga Keamanan : Memastikan bahwa peserta/kelompok selalu dalam keadaan aman. Sisi samping dari fungsi ini adalah untuk mengantisipasi keadaan bahaya atau beresiko tinggi,maka pembina harus menguasai teknik-teknik P3K, minimal sesuai dengan ruang alam bebas yang sedang digunakan.
                4. Fasilitator : Memberikan dan menyediakan fasilitas bagi peserta atau kelompok kursus untuk belajar. Fasilitas yang dimaksud disini adalah selain sarana pelatihan dan pendidikan juga metode dan teknik-teknik pengajaran yang tepat untuk peserta atau kelompok.
                5. Presenter : Pembina juga harus menguasai teknik-teknik presentasi yang baik. Presentasi yang dimaksud adalah mencakup juga prensentasi dalam berdinamika kelompok di outdoor.
                6. Translator : Setiap pribadi dalam kelompok biasanya memiliki watak karakteristik, dan gaya komunikasi yang berbeda-beda. Tugas Pembina adalah menjembatani perbedaan ini, karena jika terjadi konflik komunikasi dan tidak ditengahi, dapat merusak proses pelatihan atau dinamika kelompok.
                7. Penasehat : Berkaitan dengan fungsi fasilitas, seorang pembina juga harus mempersiapkan dirinya menjadi seorang penasehat yang tidak menasehati. Pembina haruslah melayani dengan penuh Empati.
                8. Panutan : Seorang Pembina dituntut menjadi panutan bagi peserta. Orang yang melaksanakan tugas dengan sungguh-sungguh, taat pada tata tertib, disiplin dan sebagainya. Tingkah laku dan tindakan pembina akan selalu dilihat oleh peserta, baik disaat senggang/santai maupun saat menjalankan aktifitas.
                9. Pemimpin : Menjadi seorang pemimpin di dalam kelompok peserta didik adalah salah satu tugas dan peran Pembina di dalam sebuah kegiatan.
                10. Perencana Kegiatan : Fungsi Pembina yang paling tinggi dan mungkin puncak dalam tugasnya adalah menyusun suatu program kegiatan yang dibutuhkan oleh peserta didik. Penyusunan program kegiatan adalah faktor penting dalam menjamin tercapainya tujuan kegiatan. 
                Pembina adalah seorang pendidik yang unik, menggunakan metode yang unik, ruangan belajar yang luas (outdoor), memiliki peserta didik dengan latar belakang yang beragam dan secara individu, maupun kelompok. Fungsi dan peran yang dijabarkan diatas mengambarkan secara implisit ke-khasan seorang pembina. Mana yang tepat digunakan, semua tergantung dari tugas yang dijalankan dan kebutuhan yang harus dipenuhi. Satu hal yang pasti, pengalaman dan kemauan belajar akan mendukung kemampuan seorang Pembina dalam menjalankan tugas dan peran yang diharapkan dari dirinya. 

                Pembawaan & Gaya Pembina Pramuka

                Teknik-teknik memfasilitasi adalah sebuah proses belajar melalui pengalaman (petualangan, permainan dan sebagainya) telah mengalami beberapa evolusi perubahan. Teknik-teknik ini disusun berdasarkan tingkat penemuannya dan tingkat kesulitannya. Mereka adalah :

                Membiarkan pengalaman berbicara sendiri ((Letting the Experience speak for it self)
                Gaya fasilitasi ini tergantung penuh pada keandalan suatu program, oleh karena peserta harus menangkap sendiri maknanya yang terkandung melalui program yang dijalankan (program harus benar-benar disusun rapih dan teratur).

                Berbicara atas pengalaman (Speaking for the Experience)
                Pembina, umumnya dalam peran sebagai seorang konsultan atau ahli, yang dapat menerjemahkan kegiatan yang baru berlangsung oleh peserta. Pembina memberitahu mereka apa yang mereka pelajari dan bagaimana mereka menerapkan di masa yang akan datang.

                Membahas pengalaman (Debriefing the Experience)
                Para peserta diminta untuk memikirkan ulang (refleksi) apa yang mereka jalankan dan membicarakan apa yang mereka pelajari dari kegiatan tersebut. Teknik ini mulai muncul dipertengahan tahun 70-an dan popular di AS dengan sebutan "Outward Bound Plus".

                Memberikan masukan langsung diawal kegiatan (Directly frontloading the Experience)
                Penambahan masukan pada briefing awal selain peraturan permainan dan peraturan keselamatan. Pembina membahas di awal kegiatan.

                Memberikan batasan pada pengalaman (Framing the Experience)
                Kegiatan yang akan dijalankan dibatasi secara isomorph oleh Pembina. lsomorph adalah suatu kiasan yang dibuat oleh Pembina agar peserta dapat membuat kaitan antara kegiatan yang akan dilaksanakan dengan kebutuhan mereka.

                Memberikan masukan tidak langsung diawal kegiatan ((lndirectly frontloading the Experience)
                Teknik ini umumnya digunakan Pembina apabila peserta terus-menerus menemui kesulitan yang sama pada saat kegiatan berlangsung. Untuk membatasi hal-hal tersebut Pembina umumnya memberikan masukan secara tidak langsung :
                • Mengingat keberhasilan dan kesulitan yang telah mereka alami.
                • Memberikan bayangan-bayangan alternatif penyelesaian.
                • Memberikan contoh tidak langsung.
                • Menghilangkan hal-hal yang membuat mereka " Stuck".
                • Secara pro aktif mem "framing" kegiatan.
                Pada tiga gaya terahir pembahasan dititikberatkan pada teknik praktik dari Pembina untuk meningkatkan pelajaran yang didapat peserta dari kegiatan-kegiatan, dan memudahkan untuk menerapkan pada masa yang akan datang.  Ketiga teknik ini dapat dipercaya bahwa perubahan tingkah laku dipengaruhi pengalaman langsung, dibandingkan oleh analogi yang diciptakan pada saat diskusi akhir atau setelah kegiatan selesai berlangsung.


                Sumber :

                Buku,  Outdoor Games Ala Pramuka, Gerakan Pramuka Kwarda DKI Jakarta, tahun 2004




                Rabu, 15 Mei 2013

                Morse Dalam Kegiatan Kepramukaan


                 Pengantar 

                • Sebelum ditemukan Morse oleh Samuel Finley Breese Morse pada tahun 1832, sudah banyak cara yang dilakukan oleh manusia untuk menyampaikan berita dengan cepat dari satu tempat ketempat lain. Cara pertama dilakukan oleh Homerus Ilias yang menggunakan api yang berasap, yang disusun menurun kode-kode berita seperti yang dilakukan oleh suku Indian Amerika.
                • Selanjutnya ditemukan alat tilgram yang menggunakan ketukan-ketukan suara yang diatur panjang dan pendek untuk rnengirirn berita. Juga dipergunakan isyarat cahaya untuk mengirimkan berita yang dimengerti oleh markonis-markonis seluruh dunia. Pada tahun 1832 Morse merancang sebuah alat Telegraf yang pertama, dan pada tahun 1844 terjadilah hubungan telegraf yang pertama kali di dunia antara kota Baltimore dengan Washington, tepatnya pada tangal 27 Mei 1844.
                • Kode-kode Morse untuk mengirim berita sederhana sekali yaitu berupa alfabet Morse yang mudah dimengerti  dan dipelajari
                Alfabet Morse






                Alat untuk Menyampaikan Morse
                1. Dengan Peluit (Bunyi Pendek dan Panjang).
                2. Dengan Bendera (Kibaran Pendek dan Kibaran Panjang).
                3. Dengan Api/cahaya Lampu (Nyala pendek dan Panjang).
                4. Dengan Asap (Gumpalan Kecil-dan Gumpalan Besar).
                5. Dengan AIat Telegraf (Tulisan Titik dan Garis).
                6. Cermin dengan bantuan cahaya matahari (Sebentar dan Lama).

                Cara Bersemboyan Morse Bendera


                Yang Penting Diingat
                1. Pada waktu memberi isyarat Morse perlu diperhatikan antara perbedaan TITIK dan GARIS, yaitu 1 : 3.
                2. Misalnya untuk Titik 1(satu) detik, maka untuk Garis adalah 3 (tiga) detik.

                Rumah Morse

                Alat bantu untuk menghafal morse

                 

                Keterangan : 
                1. Kotak = titik (.)     Kotak arsir = strip/garis (-)
                2. Semua huruf yang dimulai dengan titik ( . ) carilah di sebelah kiri.
                3. Semua huruf yang dimulai dengan strip ( - ) carilah di sebelah kanan.
                4. Cara mencarinya dari kotak di atas turun lurus ke bawah. 
                Yang perlu diketahui dalam Mengirim dan Menerima Semaphore

                 


                Selamat berlatih, Salam Pramuka


                Senin, 06 Mei 2013

                Boediono (Wapres RI) : Pendidikan Kunci Pembangunan





                Barangkali tak ada di antara kita yang tak setuju bahwa pendidikan punya peran besar dalam pembangunan suatu bangsa. Namun, sering kali kita berhenti di situ pada tataran abstrak dan menerimanya sebagai kebenaran mutlak yang tidak perlu lagi dikaji dan dirinci. Berdasarkan keyakinan itu kita melaksanakan percepatan dan perluasan pendidikan melalui aneka program pendidikan. Negara sebagai penjurunya dan masyarakat berpartisipasi aktif. 
                Semangat ini sudah benar. Namun, sebenarnya ada satu hal penting yang “hilang”, yaitu tentang “apa” yang seyogianya diajarkan untuk menyiapkan manusia-manusia Indonesia yang mampu berkontribusi maksimal bagi kemajuan bangsanya. Barangkali sekarang sudah waktunya kita memikirkan secara lebih mendalam masalah yang teramat penting ini. 

                Belum punya konsep yang jelas

                Saya harus menyatakan bahwa sampai saat ini kita belum punya konsepsi yang jelas mengenai substansi pendidikan ini. Karena tak ada konsepsi yang jelas, timbulah kecenderungan untuk memasukkan apa saja yang dianggap penting kedalam kurikulum. Akibatnya terjadilah beban berlebihan pada anak didik. Bahan yang diajarkan terasa ”berat”, tetapi tak jelas apakah anak mendapatkan apa yang seharusnya diperoleh dari pendidikannya.

                Substansi dasar yang memberikan isi pada kebijakan pendidikan kita perlu dibakukan. Rumusan substansi yang jelas dan cermat akan dapat menjadi kompas dan perajut bagi begitu banyak kegiatan dan inisiatif pendidikan di Tanah Air sehingga mengurangi segala macam kemubaziran. Rumusan substansi tersebut haruslah mengacu dan diturunkan dari konsepsi yang jelas mengenai bagaimana kemajuan bangsa terjadi dan apa peranan pendidikan di dalamnya.

                Saya tak akan mengulang apa yang telah dikatakan oleh para pakar mengenai peran strategis pendidikan dalam menyiapkan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) bangsa serta dengan demikian mendorong kemajuan bangsa. Kita semua sepakat mengenai hal ini. Di sini saya ingin mengangkat sisi penting lain dari pendidikan, yaitu perannya dalam mendukung kemajuan bangsa melalui dukungannya dalam pembangunan sosial, ekonomi, dan politik.

                Berikut ini adalah butir-butir yang terkait  dengan itu, yang saya sarikan dari hasil-hasil riset di bidang ekonomi-politik dan sejarah (Daron Acemoglu & James  ARobinson, 2O12). Penelitian-penelitian itu mencoba mengidentifikasi faktor-faktor penentu utama kemajuan bangsa sebagai suatu identitas sosial, ekonomi, politik berdasarkan analisis pengalaman sejarah bangsa-bangsa.

                Beberapa kesimpulan penting adalah sebagai berikut. Bahwa kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh mutu institusi-institusinya terutama institusi politik dan ekonominya. Proses kemajuan suatu bangsa terjadi dan berlanjut bila terjadi interaksi positif antara institusi politik dan institusi ekonominya. Bangsa-bangsa yang gagal maju karena insiden sejarah atau barangkali karena kelalaiannya sebagai bangsa-umumnya terperangkap dalam interaksi negatif dari kedua kelompok institusinya tersebut.

                Dari dua kelompok institusi penentu kemajuan bangsa sejarah bangsa-bangsa menunjukkan, institusi politik adalah yang lebih mendasar. Kelompok institusi inilah yang pada akhirnya menentukan aturan main yang mengkondisikan efektif tidaknya institusi-institusi lain. Pembenahan dan penataan institusi politik merupakan kunci pembuka kemajuan bangsa.

                Selanjutnya riset sejarah menunjukkan, institusi politik akan mendukung proses kemajuan suatu bangsa apabila memenuhi dua persyaratan utama. Pertama, harus ada suatu tingkat konsentrasi kekuasaan politik di tingkat nasional yang cukup untuk menjamin penegakan law and order. Somalia dan Afganistan adalah contoh ekstrem kekuasaan terlalu tercerai-berai sehingga ketertiban umum dan hukum tidak bias dijalankan.

                Syarat kedua adalah sebaliknya yaitu kekuasaan politik tak boleh terkonsentrasi di tangan satu kelompok atau beberapa kelompok saja (oligarki), tetapi harus terbagi sedemikian rupa sehingga elemen-elemen utama bangsa terwakili di dalamnya. Konstelasi politik harus inklusif karena dengan demikian sistem checks and balances dapat berjalan efektif. Tidak terlalu terkonsentrasi dan tidak terlalu tercerai-berai.

                Dengan kata lain: system demokrasi! Riset tersebut menarik kesimpulan kuat dari analisis empiris sejarah bahwa demokrasi merupakan sistem politik yang paling menjanjikan bagi bergulirnya proses kemajuan bangsa. Tentu, yang dimaksud adalah demokrasi dalam arti substantive, bukan sekadar bentuk formalnya.

                Riset menunjukkan bahwa makin tinggi pendapatan per kapita makin besar peluang demokrasi berhasil dan berlanjut (Fareed Zakaria, 2OO3). Bangsa-bangsa yang sedang membangun dan sedang mengonsolidasikan demokrasinya sangat penting untuk menghindari krisis ekonomi. Sebab, di situ ada risiko tinggi sendi-sendi demokrasi yang sedang dibangun ikut rontok. Konsolidasi demokrasi berpeluang tinggi berhasil bila ditopang oleh perekonomian yang tumbuh dan manfaatnya makin terbagi merata.

                Apabila demokrasi berhasil dikonsolidasikan, semakin besar pula institusi-institusi ekonomi akan berfungsi lebih baik lagi. Pada gilirannya meningkatkan kinerja  perekonomian dan selanjutnya akan memperkuat demokrasi. Demikianlah seterusnya: terjadi proses interaksi positif antara politik dan ekonomi.  

                Peran pendidikan

                Satu hal penting dari hasil riset mutakhir: institusi memegang peran kunci dalam proses kemajuan bangsa. Kualitas institusi penentu utama kemajuan bangsa. Oleh karena itu, upaya pembangunan bangsa semestinya memberikan prioritas tertinggi pada pembangunan institusi.

                Kualitas kinerja institusi pada akhirnya ditentukan oleh kualitas manusia-manusia yang melaksanakan fungsi institusi itu, terutama dalam sikap dan kompetensinya. Di sinilah kita melihat jelas peran sentral pendidikan dalam pembangunan dan kemajuan bangsa. Melalui pendidikan kita dapat menanamkan sikap yang pas dan memberikan bekal kompetensi yang diperlukan kepada manusia-manusia yang menjalankan fungsi institusi-institusi yang menentukan kemajuan bangsa.

                Di sini penting dibedakan dua sasaran pendidikan. Pertama membentuk sikap dan kompetensi dasar yang perlu dimiliki oleh setiap warga negara di manapun mereka berkarya. Ini merupakan tugas dari pendidikan umum. Adapun sasaran kedua: mendidik sikap dan kompetensi khusus yang diperlukan bagi mereka yang bekerja di bidang-bidang tertentu. Ini adalah bidang tugas dari pendidikan khusus. Pendidikan umum membekali anak didik soft skills untuk menjadi manusia dan warga negara yang baik. Pendidikan khusus memberikan hard skills untuk menjadi pekerja yang baik.

                Pada hakikatnya pendidikan umum wajib diberikan kepada semua anak didik di semua jenjang mulai dari SD hingga perguruan tingg[ (S-1). Tentu materi di setiap jenjang disesuaikan dengan umur dan tingkat kematangan anak didik. Adapun substansi pendidikan khusus diberikan sesuai vokasi atau profesi yang dipilih oleh siswa atau mahasiswa dalam kariernya nanti. Materi pendidikan khusus diberikan sebagai tambahan materi pendidikan umum. Dalam pendidikan khusus inilah dibangun, antara lain, kemampuan iptek manusia Indonesia.

                Dalam strategi pendidikan yang utuh, kedua komponen pendidikan ini dirumuskan secara rinci, konsisten, dan seimbang. Keduanya membentuk kurikulum minimal pada tiap jenjang pendidikan dengan standar yang berlaku, dan diberlakukan secara nasional. Tentu ruang untuk muatan lokal harus tetap diberikan sesuai kekhasan setiap daerah dan kelompok masyarakat. Inilah yang saya maksud dengan benang merah substansi pendidikan nasional yang perlu kita rumuskan secara lebih jelas dan cermat. Apabila kita menerima bahwa konsolidasi demokrasi adalah simpul kritis penentu kemajuan bangsa, strategi pendidikan perlu diarahkan sepenuhnya dan secara nyata mendukung sasaran ini. Pintu masuk kita adalah melalui pendidikan umum. Substansi pendidikan umum harus mencakup semua hal yang diperlukan untuk membekali anak didik agar jadi pelaku demokrasi yang efektif, yang tahu hak dan tanggung jawabnya, yang punya komitmen untuk menyukseskan proses konsolidasi demokrasi. Apabila ini kita lakukan, kita dapat optimistis, risiko-risiko kegagalan demokrasi dalam masa konsolidasi ini dapat diminimalkan. Demokrasi kita akan makin mantap dan institusi-institusi ekonomi akan makin efektif, yang selanjutnya akan makin memperkuat demokrasi.

                Delapan kemampuan

                Apa yang perlu dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan umum yang memenuhi tuntutan tersebut? Ini adalah tantangan bagi para ahli, untuk merumuskannya. Di sini saya ingin menyampaikan satu contoh substansi pendidikan umum dari negara lain untuk jenjang perguruan tinggi (S-1). Substansi bagi jenjang-jenjang di bawahnya tentu perlu penyesuaian-penyesuaian, termasuk harus memasukkan kekhasan budaya dan sejarah kita.

                Profesor Derek Bok, Presiden Emeritus Universitas Harvard, mengatakan, pendidikan S-1 di Amerika Serikat bertujuan memberikan bekal delapan kemampuan kepada mahasiswanya. 

                Pertama kemampuan berkomunikasi. Semua mahasiswa S-1 perlu punya kemampuan ini secara efektif dengan berbagai pihak. Mereka harus mampu menulis dengan presisi dan menarik juga secara lisan idenya dengan jelas dan persuasive. Ketidakmampuan berkomunikasi antara warga Negara atau antara pemerintah dan public adalah kegagalan demokrasi.

                Kedua, kemampuan berfikir jernih dan kritis. Kemampuan ini mencakup kemampuan mengajukan pertanyaan yang relevan, mengenali dan mendevinisikan masalah, menyadari dan mempertimbangkan argumentasi dari berbagai sisi dari suatu permasalahan, serta mencari dan menggunakan secara efektif data dan informasi yang relevan. Akhirnya, mengambil sikap dan kesimpulan setelah mempertimbangkan semuanya dengan cermat.

                Ketiga, kemampuan mempertimbangkan segi moral suatu permasalahan. Hampir tiap isu publik punya sisi moral. Mahasiswa perlu dilatih menganalisis dengan jernih dan mengambil sikap mengenai aspek baik-buruk, benar-salah dari segi moral dalam menghadapi permasalahan.  

                Keempat, kemampuan untuk menjadi warga negara yang efektif. Mahasiswa harus disiapkan menjadi peserta aktif dalam proses demokrasi dan mampu mengambil sikap yang rasional mengenai berbagai  masalah politik dan isu-isu publik.

                Kelima kemampuan untuk mencoba mengerti dan toleran terhadap pandangan yang berbeda. Di AS yang terdiri atas banyak kelompok etnis dan kelompok agama, pengajaran toleransi memperolehperhatian khusus dan dianggap sebagai tugas penting dari universitas.

                Keenam, kemampuan hidup dalam masyarakat yang mengglobal. Mahasiswa diharapkan punya pengetahuan dasar masalah-masalah  internasional dan apresiasi mengenai kultur yang berbeda. 

                Ketujuh, memiliki minat luas mengenai hidup. Mahasiswa harus dibangkitkan minat intelektualnya seperti mengenai sejarah, filsafat, dan minat di bidang-bidang lain, seperti music, seni, dan olahraga.

                Kedelapan, memiliki kesiapan untuk bekerja. Ini sebenarnya bukan bagian dari kurikulum pendidikan umum, tetapi bagian dari kurikulum pendidikan khusus yang memang harus diajarkan pada tingkat S-1 sesuai dengan fakultasnya.

                Kedenganrannya terlalu idealistik, tetapi itulah yang jadi sasaran ideal universitas-universitas disana. Dan, tampaknya mereka sangat serius dalam mencapai sasaran tersebut. Tentunya kita tak boleh puas diri dengan apa yang kita punya sekarang. Taruhannya terlalu besar untuk bersikap seperti itu. Marilah kita lakukan sesuatu yang substansif bagi pendidikan kita.


                BOEDIONO
                Wakil Presiden RI
                 
                Sumber : 
                Kolom Opini Harian Kompas, Senin 27 Agustus 2012


                Jumat, 03 Mei 2013

                Metode Discovery & Penanaman Nilai-nilai Kode Kehormatan Pramuka (Contoh Penerapan)



                Pengantar

                Mengacu pada AD/ART Gerakan Pramuka,  Kode Kehormatan Pramuka terdiri dari janji yang disebut satya (tri satya dan dwi satya) dan ketentuan moral  yang disebut darma (dasa darma dan dwi darma). Kode kehormatan sebagai ketentuan moral  merupakan  budaya organisasi Gerakan Pramuka yang melandasi sikap dan perilaku setiap anggota Gerakan Pramuka dalam melaksanakan kegiatan berorganisasi. (Selengkapnya lihat entri :  Kode Kehormatan Pramuka).

                Salah satu tugas Pembina Pramuka adalah menanamkan nilai-nilai  yang terkandung dalam kode kehormatan agar dapat dipahami, dihayati dan diamalkan oleh para Pramuka. Bahkan Pendidikan Kepramukaan sebagai pendidikan karakter pada hakikatnya merupakan upaya penanaman nilai-nilai yang terkandung dalam kode kehormatan dimaksud secara terus menerus.

                Banyak metode yang bisa digunakan oleh para Pembina untuk menanamkan nilai-nilai Kode Kehormatan Pramuka, salah satu diantaranya adalah metode discovery. Meski metode ini awalnya  digunakan untuk pelatihan science namun dengan modifikasi dan kreativitas metode ini menarik untuk dijadikan metode pendidikan dan penanaman nilai-nilai yang terkandung dalam kode kehormatan pramuka.

                Di bawah ini adalah contoh prosedur dan model penerapan metode discovery untuk penanaman nilai-nilai yang terkandung dalam kode kehormatan pramuka. Secara khusus yang akan dipakai adalah metode penemuan terapan atau metode discovery terbimbing.

                Persiapan

                Kakak Pembina ingin menanamkan nilai-nilai Kode Kehormatan Pramuka yang salah satunya adalah pentingnya nilai - nilai "kecintaan pada alam". Pada tahap persiapan, Kakak Pembina harus menetapkan terlebih dahulu  tema, tujuan, alat peraga yang dibutuhkan dan lembar kegiatan peserta didik.

                Menetapkann Tema :

                Tema latihan akan dikomunikasi pada peserta didik di awal kegiatan. Oleh sebab itu harus disusun secara menarik dan sesuai dengan alam Pramuka saat ini. Salah satu contoh tema, misalnya : "Cinta Alam, Tanggungjawab dan Gaya Hidup Penggalang Masa Kini, Mungkinkah ?"

                Menetapkan Tujuan :

                Menetapkan tujuan sangat penting karena akan menjadi panduan Pembina didalam mendampingi peserta didik berdiskusi. Sebagaimana umumnya proses pendidikan maka dalam menetapkan tujuan  harus mempertimbangkan 3 ranah perubahan perilaku peserta didik yaitu ranah kognitif, afektif dan psikomotorik.

                Tujuan pendidikan adalah terjadinya perubahan perilaku peserta didik setelah mengikuti sebuah proses pendidikan. Ubahan perilaku tersebut umumnya mengacu pada kata kerja operasional dalam Taksonomi Bloom yang meliputi ketiga ranah yaitu penalaran, penghayatan dan pengamalan (selengkapnya lihat entri/topik : Taksonomi Bloom).

                Mengacu pada tema di atas, kira-kira tujuan pelatihan yang bisa ditetapkan dalam kegiatan ini, kurang lebih sbb :
                • Para Penggalang mampu mengidentifikasi problem-problem lingkungan yang terjadi di sekitar lingkungan kehidupannya.
                • Para Penggalang mampu mengkombinasikan antara upaya pemecahan problem lingkungan dan peran yang bisa dilakukan oleh dirinya, keluarganya, masyarakat bahkan bangsanya.
                • Para Penggalang mampu  melaksaakan program bersih-bersih lingkungan baik dilakukan sendiri maupun dengan berkelompok

                Alat Bantu Yang Dibutuhkan

                Alat bantu/peraga untuk mendukung penerapan metode ini, adalah :
                • Alat peraga (foto, berita, gambar, video, dll) tentang berbagai kerusakan alam yang terjadi didunia dan akibatnya bagi manusia.
                • Konsep Pendidikan Nilai tentang Pentingnya Mencintai Alam (dari sisi agama, lingkungan budaya, sosial, ekonomi, dll).
                • Lambar Kerja Peserta Didik
                • Kertas Karton, Spidol & Papan Tulis

                Siapkan Hadiah yang menarik

                Untuk membuat diskusi lebih dinamis dan menyenangkan, Kakak Pembina sebaiknya menyiapkan beberapa hadiah yang akan dibagikan setiap selesai diskusi. Upayakan setiap regu memperoleh hadiah sesuai dengan prestasi masing-masing, misalnya :  regu dengan  ide paling unik, paling kompak, paling seru, paling dinamis/antusias, dll. Prinsipnya semua regu haruss memperoleh hadiah sesuai dengan upayanya masing-masing.


                Pelaksanaan

                Pembukaan

                Setelah Upacara Pembukaan Latihan, Kakak Pembina menjelaskan bahwa topik latihan hari ini tentang Kode Kehormatan Pramuka dengan tema "Cinta Alam, Tanggungjawab dan Gaya Hidup Penggalang Masa Kini, Mungkinkah". Sebagai pengantar Kakak Pembina menjelaskan apa itu cinta alam dari berbagai segi (agama, sosial, budaya, lingkungan, ekonomi, dsb), kenapa alam perlu dicintai, fungsi alam untuk mendukung kehidupan manusia, dan berbagai kejadian bencana alam yang merugikan umat manusia. Agar penjelasan menarik perlu disertakan alat peraga baik foto, gambar, video, dll.

                Selanjutnya Kakak Pembina, meminta para Penggalang berkelompok sesuai regu masing-masing untuk berdiskusi  dengan tahapan dan topik yang telah ditetapkan.

                Diskusi Putara 1 :

                Kakak Pembina membagikan "lembar kerja peserta didik"  untuk diisi berdasar hasil diskusi regu. Diskusi putaran pertama bertujuan mendorong  peserta didik  agar mampu menemukan fakta/ fenomena  problem-problem lingkungan di sekitar lingkungan terdekatnya.

                Waktu untuk diskusi hendaknya jangan terlalu lama, hanya sekitar 5 - 10 menit. Tidak semua kotak harus diisi seluruhnya. Isian kotak adalah  kalimat yang pendek-pendek atau kalimat pernyataan yang jelas menggambarkan fakta/fenomena/keadaan.

                Lembar kerja peserta didik di diskusi putaran pertama ini  kurang lebih akan berupa :


                Setelah peserta didik selesai diskusi putaran pertama, Kakak Pembina meminta masing-masing regu melaporkan hasil temuannya dan dicatat di papan tulis. Jika ada regu yang tidak berhasil mengisi kotak tertentu dibiarkan saja. Kotak-kota yang kosong dapat diisi bersama antara Kakak Pembina dengan semua anggota regu.

                Berdasarkan paparan masing-masing kelompok, Kakak Pembina kemudian menyimpulkan di papan tulis temuan-temuan tiap regu, kira-kira hasilnya akan seperti :


                Dari tabel di atas, Kakak Pembina meminta semua regu untuk menyusun sebuah cerita dalam 3 sampai 5 kalimat dengan gaya bebas namun harus mengacu pada pokok-pokok temuan diskusi seperti tercantum pada tabel atas.

                Misalnya Regu Harima menyatakan  : "Menjaga lingkungan adalah tanggungjawab semua keluarga, warga rt/rw dan juga warga kalurahan. Sampah akan menjadi masalah lingkungan kalau tiap keluarga membuang begitu saja. Sampah akan bermanfaat jika saja di tiap RT/RW mendirikan Bank Sampah untuk didaur ulang" 

                (Catatan : mengapa dibikin cerita ? :
                • Hasil diskusi sebagaimana tercantum di atas masih berupa fenomena/fakta-fakta yang tentu saja masih susah diingat apalagi dihayati.
                • Sebuah cerita umumnya mudah diingat dan diinternalisasi dalam pikiran, perasaan dan mudah dijadikan  motivasi berkarya.
                • Sebuah cerita umumnya lebih menarik dan ekspresif  karena fakta yang sama bisa diceritakan dengan gaya humor, gaya sedih, gaya gembira, gaya motivatif, gaya inspiratif, dsb)

                Setelah semua regu diminta menyusun cerita, sebelum memasuki diskusi putaran dua Kakak Pembina memberikan penghargaan, misalnya  kepada regu yang dianggap paling dinamis atau yang ceritanya sangat menarik.  Dapat juga diselingi dengan bernyanyi, bermain tepuk tangan, yel-yel, dsb.

                Diskusi Putaran 2 :
                Diskusi putaran kedua merupakan kelanjutan diskusi putaran pertama. Pada putaran kedua ini  para Peserta Didik didorong untuk mampu menemukan fokus masalah lingkungan dengan derajat  yang ideal/bagus, rusak atau sangat rusak.

                Lembar kerja peserta didik di putaran kedua ini kurang lebih, sbb :


                Setelah peserta didik selesai diskusi putaran kedua, Kakak Pembina kembali  meminta masing-masing regu melaporkan hasilnya dan dicatat di papan tulis. Tidak semua regu harus mampu mengisi semua kolom yang ada.  Kotak-kotak yang kosong diisi bersama antara Kakak Pembina dan semua anggota regu.

                Berdasarkan paparan masing-masing regu, Kakak Pembina kemudian menyimpulkan dan ditulis di  papan tulis. Kira-kira hasilnya akan seperti :



                Selesai semua tabel diisi, Kakak Pembina meminta semua regu untuk kembali menyusun sebuah cerita dalam 3 sampai 5 kalimat dengan gaya bebas namun mengacu pada pokok-pokok temuan diskusi di atas.

                Misalnya Regu Garuda  menyatakan  : "Sungguh menyedihkan ruang terbuka hijau di lingkungan kotaku sangat rusak, pohon-pohon mati, rumput liar tumbuh di mana-mana, air menggenang di berbagai sudut sehingga menjadi sumber penyakit  seperti demam berdarah, pernafasan, alergi dan berbagai penyakit lainnya. Tentu hal ini tidak bisa dibiarkan sebab ruang terbuka hijau adalah sumber oksigen, keindahan kota dan tempat rekreasi"

                Setelah semua regu diminta menyusun cerita dan sebelum memasuki diskusi putaran tiga  Kakak Pembina kembali memberikan penghargaan, misalnya  kepada regu yang idenya  sangat menarik, pendapatnya beragam, dsb.  Dapat juga diselingi dengan bernyanyi, bermain tepuk tangan, yel-yel, dsb.


                Diskusi Putaran 3 :

                Diskusi putaran ketiga merupakan kelanjutan diskusi putaran pertama dan kedua. Pada putaran ketiga ini para Peserta Didik didorong untuk mampu menemukan dan merumuskan peran individu maupun kelompok dalam menciptakan lingkungan yang ideal.

                Lembar kerja peserta didik di putaran kedua ini kurang lebih, sbb :


                Setelah peserta didik selesai diskusi putaran ketiga,  Kakak Pembina kembali meminta masing-masing regu melaporkan kembali hasil temuanya dan dicatat di papan tulis. Tidak semua regu harus mampu mengisi semua kolom yang ada.  Kolom yang masih kosong kembali diisi oleh Kakak Pembina dengan seluruh anggota regu.

                Berdasarkan paparan masing-masing kelompok, Kakak Pembina kemudian menyimpukan dan menuliskannya di papan tulis.  Kira-kira hasilnya akan seperti :



                Setelah semua kolom terisi, , Kakak Pembina meminta semua regu untuk menyusun kembali  sebuah cerita dalam 3 sampai 5 kalimat dengan gaya bebas namun mengacu pada pokok-pokok temun diskusi di atas.

                Misalnya Regu Singa  menyatakan  : "Kami regu singa adalah pribadi-pribadi yang cinta lingkungan. Mulai saat ini kami tidak akan lagi membuang sampah sembarangan, dengan sukarela membersihkan selokan, menyingkarkan benda-benda dijalan yang menggangu lalu lintas dan giat ikut serta menjaga ruang terbuka hijau di lingkungan kami. Semua itu kami lakukan karena kami bersemboyan Pramuka cinta alam sepanjang hayat dikandung badan ..."

                Setelah semua regu diminta menyusun cerita dan sebelum memasuki diskusi putaran keempat  Kakak Pembina kembali memberikan penghargaan, misalnya  kepada regu yang paling kompak, dinamis dan bekerjasama dengan baik.  Dapat juga diselingi dengan bernanyi, bermain tepuk tangan, yel-yel, dsb.


                Diskusi Putaran 4/Penutup

                Temuan-temuan pada diskusi putaran pertama, kedua dan ketiga merupakan tahap mengidentifikasi, menggolongkan,  menjelaskan berbagai fakta/fenomena  yang terkait dengan keadaan lingkungan disekitar peserta didik.

                Diskusi putaran 4 merupakan tahap  perumusan hasil-hasil temuan dengan cara menarik kesimpulan baik yang berupa hubungan sebab akibat, hubungan subyek dan obyek, hubungan pengaruh mempengaruhi antar fakta/fenomena yangg berhasil ditemukan peserta didik dalam ketiga tahap diskusi di atas.  Dari hubungan-hubungan tersebut peserta didik  dibimbing untuk merumuskan  konsep pemikiran, cara menyikapi dan rencana aksi sebagai perwujudan nilai-nilai cinta alam.

                Perumusan hasil-hasil temuan ini mengacu pada tujuan, tema dan hasil diskusi baik yang  berupa rangkaian fakta maupun fakta yang telah disusun dalam sebuah cerita oleh tiap regu. Kakak Pembina dapat lebih aktif agar perumusan ini bisa dilakukan dengan baik.

                Perumusan hasil temuan harus diupayakan agar meliputi ranah penalaran, penghayatan dan pengamalan.  kelompok. Hasil perumusan akan berbeda-beda karena terkait dengan minat dan fokus indivisu dan kelompok terhadap terhadap fakta-fakta temua diskusi di atas.

                Hasil perumusan bisa disusun dalam sebuah cerita, pernyataan, janji, komitmen, dsigb sesuai dengan alam Penggalang. Misalnya, hasil perumusan Regu Gajah sbb :

                Pada hari ini, 5 Mei 2013, kami regu Gajah menyatakan bahwa cinta alam sebagai kode kehormatan pramuka harus bisa menjadi gaya hidup dan tanggungjawab setiap anggota regu baik sebagai pribadi, sebagai anggota keluarga, sebagai anggota masyarakat, sebagian bagian dari bangsa Indonesia maupun sebagai bagian dari warga dunia.

                Alam adalah tempat manusia hidup dan berpijak. Alam yang rusak akan mengancam kehidupan umat manusia. Ketika sampah berserakan, kotor dan bau, pohon-pohon mati, jalan kotor dan berdebu, sungai-sungai kering - tercemar saat kemarau dan banjir saat hujan, limbah rumah tangga dan limbah industri dibuang begitu saja, itulah tanda-tanda alam yang rusak.

                Ketika alam rusak maka saatnya  kita semua untuk kembali memperbaiki dan melestarikannya. Untuk itu pada hari ini seluruh anggota regu gajah akan :

                Satu : Menjadi duta lingkungan untuk mengingatkan siapa saja dengan santun agar berperilaku bersih, bersahabat dengan alam dan menjaga kelestariannya.

                Dua : Tidak kenal lelah mengajak kawan, keluarga dan masyarakat untuk secara sendiri-sendiri atau bersama-sama mengatasi persoalan  lingkungan dari  persolan  kecil hingga yang besar.

                Tiga :Setiap minggu kami akan bekerja bakti membersihkan selokan, taman-taman sekolah dan taman-taman kota, sungai-sungai dengan suka cita, suka rela dan penuh tanggungjawab.

                Jakarta, 5 Mei 2013
                Hidup Regu Gajah ..... Yesss...
                Regu Gajah ..... Cinta Alam Sepanjang Hayat

                Statemen hasil perumusan di atas bisa ditulis secara rapi dilengkapi dengan ilustrasi kemudian  dipasang sebagai hiasan dinding sangar gudep atau sesekali diikutkan dalam pameran Pramuka.


                Penutup

                Dari rangkain proses penerapan metode discovery di atas tampak ada beberapa hal yang layak dijadikan perhatian, seperti :
                • Kreativitas Pembina dituntut tinggi terutama dalam penguasaan tema dengan segala dimensinya karena akan menjadi bahan penyusunan Lembar Kerja Peserta Didik pada tiap tahapan.
                • Pembina harus aktif  mengobservasi tiap kelompok agar diskusi bisa berkembang dengan baik dan fokus pada tema.
                • Pendidikan nilai sesungguhnya tidak mudah karena pada diri para peserta didik pada dasarnya telah terinternalisasi begitu banyak nilai sebagai hasil interaksinya dengan berbagai jenis lingkungan. Pendidikan nilai yang baik adalah yang mampu mengungkap nilai-nilai yang telah "dimiliki" peserta didik kemudian membekalinya  agar mampu menyeleksinya mana nilai yang baik dan berguna mana yang tidak.
                Metode ini banyak disarankan untuk peserta didik usia penggalang ke atas, namun demikian dengan modifikasi dan adaptasi seperlunya kemungkinan bisa juga diterapkan untuk siaga. Makin tinggi usia peserta didik tentu akan  akan makin komplek  sudut pandang masalah dan penyelesainnya, tentu saja  kemudian akan membutuhkan penyusunan lembar kerja yang lebih njlimet.


                Pada akhirnya yang penting disadarai metode hanyalah sekedar alat. Oleh sebab itu jangan pernah ragu menginovasi dan mengadaptasinya  bagi kepentingan peserta didik. Metode discovery termbimbing bisa dilakukan untuk materi pendidikan apa saja.


                Selamat Mencoba, salam Pramuka


                Lihat entri/topik terkait :
                Metode Discovery untuk Latihan Pramuka yang Menyenangkan
                Taksonomi Bloom
                Kode Kehormatan Pramuka


                Sumber :
                http://id.wikipedia.org/
                http://file.upi.edu/
                Kertas Kerja Workshop Penyusunan Kurikulum Berbasis Kompetensi  Departemen Vokasi UI - 2012
                Kertas Kerja Workshop Penyusunan Kurikulum Berbasis Kompetensi Kursus Penyiaran, Ditjen PAUDNI  Kemendiknas 2012

                .... dan dari berbagai sumber lain, ditulis ulang dan disesuaikan dengan keperluan "ensiklopedia pramuka" (-aiw).