Selasa, 04 Juni 2013

SKK & TKK Dirgantara Krida Jasa Kedirgantaraan






SKK & TKK Dirgantara Krida Jasa Kedirgantaraan, terdiri dari :
  1. SKK & TKK Teknik Mesin Pesawat Udara
  2. SKK & TKK Komunkasi
  3. SKK & TKK SAR (Search & Resque)
  4. SKK & TKK Struktur Pesawat

01.    SKK Teknik Mesin Pesawat Udara

SKK Mesin Pesawat Udara untuk Tingkat Siaga
tidak ada.

SKK Mesin Pesawat Udara untuk Tingkat Penggalang
  • Mengetahui jenis mesin pesawat udara.
  • Mengetahui bagian-bagian besar mesin pesawat udara.
  • Dapat menyebutkan jenis-jenis bahan bakar pesawat udara.
  • Mengetahui tentang "Horse Power" atau “Tenaga Kuda”.
Gambar TKK  Mesin Pesawat Udara untuk Tingkat Penggalang





SKK Mesin Pesawat Udara untuk Tingkat Penegak
  • Mengetahui tentang cara kerja piston/jet engine.
  • Mengetahui cara perawatan mesin pesawat udara.
  • Mengerti kegunaan mesin untuk pesawat terbang.
  • Mengerti “instrument engine” pesawat terbang.
  • Mengetahui tentang akibat jika salah satu penerbangan salah satu mesin mati.
  • Mengerti fungsi propeller/baling-baling pesawat udara.
  • Dapat menjelaskan tentang “Air Colling”.
 Gambar TKK  Mesin Pesawat Udara untuk Tingkat Penegak




SKK Mesin Peswat Udara untuk Tingkat Pandega
  • Memahami cara kerja mesin jet dan mesin piston.
  • Mengetahui cara perawatan mesin pesawat jet dan mesin pesawat piston.
  • Memahami fungsi turbin dan propeller.
  • Memahami perbedaan antara piston engine dengan mesin jet.
 Gambar TKK  Mesin Pesawat Udara untuk Tingkat Pandega



02. SKK & TKK Komunikasi

SKK Komunikasi untuk Tingkat Siaga
Tidak ada.

SKK Komunikasi untuk Tingkat Penggalang
  • Mengetahui peralatan komunikasi.
  • Mampu menyampaikan pesan secara lisan.
  • Mampu berkomunikasi telepon dengan baik.
  • Mengetahui macam-macam frekuensi dan modulasi gelombang radio.
  • Mengetahui Fonetic alphabet (Alpha, Bravo, Charli, dan seterusnya) 

Gambar TKK Komunikasi untuk Tingkat Penggalang




SKK Komunikasi untuk Tingkat Penegak
  • Mengetahui tentang medan magnet.
  • Mengetahui tentang dasar-dasar radio.
  • Mengetahui abjad morse code dan penciptanya.
  • Mampu menggunakan morse code peluit untuk memanggiI teman.
  • Dapat merakit pesawat bagian dari alat radio (Speaker, Amplifier, dan Iain-lain).
  • Mengenal tugas-tugas radio station di darat.
Gambar TKK Komunikasi untuk Tingkat Penegak 



 SKK Komunikasi untuk Tingkat Pandega
  • Mengetahui prosedur komunikasi penerbangan.
  • Bisa membedakan bentuk-bentuk radiogram, telex, dan sejenisnya.
  • Bisa menerima dan mengirim berita dengan morse code.
  • Mengetahui Q code terutama yang berkaitan dengan penerbangan.
Gambar TKK Komunikasi untuk Tingkat Pandega



03.  SKK SAR (Search & Resque)

SKK SAR  (Search & Resque) untuk Tingkat Siaga
data belum lengkap

SKK SAR  (Search & Resque) untuk Tingkat Penggalang 
data belum lengkap

Gambar TKK SAR  (SEARCH & RESQUE) untuk Tingkat Penggalang




SKK SAR  (Search & Resque) untuk Tingkat Penegak
  • Mengenal jenis- jenis peralatan SAR.
  • Mengenal obat-obatan emergency kit dan PPPK.
  • Mampu memberikan pertolongan awal.
  • Mampu memberikan laporan kecelakaan kejadian/kecelakaan.
  • Mampu membuat tanda-tanda permintaan bantuan.
  • Mampu membaca peta dan data-datanya.
  • Mengenal tanda-tanda pesawat dalam keadaan bahaya.
  • Mampu menyampaikan berita musibah.
  • Mengetahui tentang pengetahuan SAR dan Survival.
  • Mengenal dan dapat menggunakan alpeka portable (terbatas).
Gambar TKK SAR  (SEARCH & RESQUE) untuk Tingkat Penegak


 SKK SAR  (Search & Resque) untuk Tingkat Pandega
  • Mengenal jenis-jenis peralatan SAR.
  • Mengenal obat-obatan emergency kit dan PPPK.
  • Mampu memberikan pertolongan awal.
  • Mampu memberikan laporan keceIakaan kejadian/kecelakaan.
  • Mampu membuat tanda-tanda permintaan bantuan.
  • Mampu membaca peta dan data-datanya.
  • Mengenal tanda-tanda pesawat dalam keadaan bahaya.
  • Mampu menyampaikan berita musibah.
  • Mengetahui tentang pengetahuan SAR dan Survival.
  • Mengenal SAR Nasional dan peralatannya dalam musibah.
  • Mampu melaksanakan operasi pertolongan dan penyelamatan secara terbatas.
  • Mampu melaksanakan operasi pencarian secara terbatas.
  • Mampu mengenal dan menggunakan alpeka secara terbatas (portable).

Gambar TKK SAR  (SEARCH & RESQUE) untuk Tingkat Pandega



 04.    SKK Struktur Pesawat

SKK Struktur Pesawat untuk Tingkat Siaga
Tidak ada.

SKK Struktur Pesawat untuk Tingkat Penggalang
  • Marnpu menyebutkan pabrik mesin pesawat udara.
  • Dapat menggambar pesawat terbang dari 3 pandangan.
TKK Struktur Pesawat untuk Tingkat Penggalang



SKK Struktur Pesawat untuk Tingkat Penegak
  • Mampu menjelaskan tentang bentuk-bentuk aerodinamis.
  • Mampu menjelaskan tentang kerangka pesawat.
  • Mampu membuat miniatur kerangka pesawat.
  • Mampu menjelaskan sumber-sumber gaya pada pesawat.
  • Mampu menjelaskan tentang "central of gravity".
  • Dapat menjelaskan tentang fungsi dari bagian-bagian kemudi pesawat udara ( aeleron, flaps, rudder).

TKK Struktur Pesawat untuk Tingkat Penegak



 SKK Struktur Pesawat untuk Tingkat Pandega
  • Mampu menjelaskan tentang "rotary wing".
  • Mampu menjelaskan perbedaan pesawat "hight wing", "low wing" dan "rotary wing".
  • Mampu membedakan bentuk-bentuk sayap swept back, delta wing.
  • Mengerti dan mengetahui pesawat dalam kondisi "stalI".
  • Mampu menjelaskan tentang gaya-gaya yang berkerja pada pesawat dan pengaruhnya, sehingga pesawat dapat melakukan gerakan-gerakan di udara.
  • Dapat membuat miniatur struktur pesawat dengan delta wing
TKK Struktur Pesawat untuk Tingkat Pandega



Selamat berlatih. Salam Pramuka.
 
Sumber :
Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Nomor : 29 Tahun 1996 tentang 
Penyempurnaan Syarat-syarat dan Gambar Tanda Kecakapan Khusus Kelompok Kedirgantaraan.

Sabtu, 01 Juni 2013

Kata Kerja Operasional : Alat Bantu Merumuskan Tujuan Latihan Kepramukaan




Arti Penting Merumuskan Tujuan Latihan
Salah satu fungsi tertinggi dan puncak tugas seorang Pembina Pramuka adalah sebagai Perencana Latihan dan Kegiatan sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Faktor-faktor yang harus diperhatikan oleh seorang Pemina Pramuka dalam menyusun perencanaan kegiatan dan latihan adalah :
  • Tujuan apa yang ingin dicapai
  • Materi apa yang akan diberikan
  • Metode dan sarana prasarana seperti apa yang dipilih
  • Prosedur evaluasi apa yang akan dipakai untuk melihat/mengobservasi perubahan perilaku peserta didik.
Faktor-faktor di atas disusun dan dirumusan secara komprehensif agar latihan kepramukaan tidak menjemukan dan stagnan. Untuk itu dalam merumuskan faktor-faktor di atas penting untuk mempertimbangkan :
  • Aspirasi, keinginan dan lingkungan peserta didik
  • Perbedaan indivisual (individual differences) antar peserta didik
  • Kecerdasan, minat dan bakat khusus masing-masing peserta didik
  • Perkembangan jasmani dan kesehatan masing-masing peserta didik
  • Kecenderungan emosi dan karakter peserta didik
  • Hobi dan penggunaan waktu senggang
  • Lingkungan sosial budaya
  • Latar belakang keluarga, dll.

Merumuskan Tujuan Latihan Kepramukaan
Tujuan latihan kepramukaan adalah memuat gambaran perubahan perilaku peserta didik setelah mengikuti latihan dan kegiatan kepramukaan  baik menyangkut tertatanamnya  nilai-nilai yang baik, luhur, pantas, benar, dan indah untuk kehidupan, meningkatnya pemahaman dan penguasaan terhadap ilmu pengeahuan dan meningkatnya kemampuan menguasai ketrampilan tertentu yang berguna bagi diri, kelarga, masyarakat, bangsa dan umat manusia.

Tujuan latihan kepramukaan adalah tujuan yang ingin dicapai berdasar materi latihan rutin/mingguan atau tujuan kegiatan tertentu. Pencapaian tujuan ini merupakan bagian dari upaya pencapaian pencapaian tujuan satuan dan tujuan umum Pendidikan kepramukaan. Kemampuan para Pembina Pramuka merumuskan tujuan latihan pramuka mingguan akan bermanfaat dalam hal :
  • Menghindari terjadinya latihan kepramukaan sebaga hal yang rutin/tidak ada inovasi
  • Menghindari terjadinya ketidaksambungan antara aspirasi peserta didik dengan materi yang diberikan
  • Menghindari pemborosan waktu kegiatan
  • Tidak adanya fokus dan tujuan yang harus dicapai bersama sehingga para peserta didik tidak termotivasi untuk berprestasi dan berkarya
  • Tidak adanya alat/instrumen evaluasi untuk mengukur perubahan perilaku peserta didik, dll.

Kata Kerja Operasional
Dibawah ini adalah daftar kata kerja operasional yang dapat dijadikan sebagai alat bantu merumuskan tujuan latihan kepramukaan sekaligus menunjukan target ubahan perilaku para peserta didik setelah mengikuti agenda latihan kepramukaan tertentu.


Ranah Kognitif
  • Pengetahuan : Mengutip, Menyebutkan, Menjelaskan, Menggambar, Membilang, Mengidentifikasi, Mendaftar, Menunjukkan, Memberi label, Memberi indeks, Memasangkan, Menamai, Menandai, Membaca, Menyadari, Menghafal, Meniru, Mencatat, Mengulang, Mereproduksi, Meninjau, Memilih, Menyatakan, Mempelajari, Mentabulasi, Memberi kode, Menelusuri, Menulis
  • Pemahaman : Memperkirakan, Menjelaskan, Mengkategorikan, Mencirikan, Merinci, Mengasosiasikan, Membandingkan, Menghitung, Mengkontraskan, Mengubah, Mempertahankan, Menguraikan, Menjalin, Membedakan, Mendiskusikan, Menggali, Mencontohkan, Menerangkan, Mengemukakan, Mempolakan, Memperluas, Menyimpulkan, Meramalkan, Merangkum, Menjabarkan
  • Penerapan : Menugaskan, Mengurutkan, Menerapkan, Menyesuaikan, Mengkalkulasi, Memodifikasi, Mengklasifikasi, Menghitung, Membangun , Membiasakan, Mencegah, Menentukan, Menggambarkan, Menggunakan, Menilai, Melatih, Menggali, Mengemukakan, Mengadaptasi, Menyelidiki, Mengoperasikan, Mempersoalkan, Mengkonsepkan, Melaksanakan, Meramalkan, Memproduksi, Memproses, Mengaitkan, Menyusun, Mensimulasikan, Memecahkan, Melakukan, Mentabulasi, Memproses, Meramalkan
  • Analisis : Menganalisis, Mengaudit, Memecahkan, Menegaskan, Mendeteksi, Mendiagnosis, Menyeleksi, Merinci, Menominasikan, Mendiagramkan, Megkorelasikan, Merasionalkan, Menguji, Mencerahkan, Menjelajah, Membagankan, Menyimpulkan, Menemukan, Menelaah, Memaksimalkan, Memerintahkan, Mengedit, Mengaitkan, Memilih, Mengukur, Melatih, Mentransfer
  • Sintesis :  Mengabstraksi, Mengatur, Menganimasi, Mengumpulkan, Mengkategorikan, Mengkode, Mengombinasikan, Menyusun, Mengarang, Membangun, Menanggulangi, Menghubungkan, Menciptakan, Mengkreasikan, Mengoreksi, Merancang, Merencanakan, Mendikte, Meningkatkan, Memperjelas, Memfasilitasi, Membentuk, Merumuskan, Menggeneralisasi, Menggabungkan, Memadukan, Membatas, Mereparasi, Menampilkan, Menyiapkan Memproduksi, Merangkum, Merekonstruksi
  • Penerapan : Membandingkan, Menyimpulkan, Menilai, Mengarahkan, Mengkritik, Menimbang, Memutuskan, Memisahkan, Memprediksi, Memperjelas, Menugaskan, Menafsirkan, Mempertahankan, Memerinci, Mengukur, Merangkum, Membuktikan, Memvalidasi, Mengetes, Mendukung, Memilih, Memproyeksikan
Ranah Afektif
  • Menerima : Memilih, Mempertanyakan, Mengikuti, Memberi, Menganut, Mematuhi, Meminati
  • Menanggapi : Menjawab, Membantu, Mengajukan, Mengompromika, Menyenangi, Menyambut, Mendukung, Menyetujui, Menampilkan, Melaporkan, Memilih, Mengatakan, Memilah, Menolak
  • Menilai : Mengasumsikan, Meyakini, Melengkapi, Meyakinkan, Memperjelas, Memprakarsai, Mengimani, Mengundang, Menggabungkan, Mengusulkan, Menekankan, Menyumbang
  • Mengelola : Menganut, Mengubah, Menata, Mengklasifikasikan, Mengombinasikan, Mempertahankan, Membangun, Membentuk pendapat, Memadukan, Mengelola, Menegosiasi, Merembuk
  • Menghayati : Mengubah perilaku, Berakhlak mulia, Mempengaruhi, Mendengarkan, Mengkualifikasi, Melayani, Menunjukkan, Membuktikan, Memecahkan
Ranah Psikomotor
  • Menirukan : Mengaktifkan, Menyesuaikan, Menggabungkan, Melamar, Mengatur, Mengumpulkan, Menimbang, Memperkecil, Membangun, Mengubah, Membersihkan, Memposisikan, Mengonstruksi
  • Memanipulasi : Mengoreksi, Mendemonstrasikan, Merancang, Memilah, Melatih, Memperbaiki, Mengidentifikasikan, Mengisi, Menempatkan, Membuat, Memanipulasi, Mereparasi, Mencampur
  • Pengalamiahan : Mengalihkan, Menggantikan, Memutar, Mengirim, Memindahkan, Mendorong, Menarik, Memproduksi, Mencampur, Mengoperasikan, Mengemas, Membungkus
  • Artikulasi : Mengalihkan, Mempertajam, Membentuk, Memadankan, Menggunakan, Memulai, Menyetir, Menjeniskan, Menempel, Menseketsa, Melonggarkan, Menimbang

Contoh Penerapan Kata Kerja Operasional untuk Merumuskan 
Tujuan Latihan Kepramukaan

Agenda Latihan
Seorang Pembina Pramuka akan melatih peserta didiknya  morse dan semaphore. Ia ingin agar para peserta didik tidak sekedar terampil tetapi mampu menghayati morse dan semphore sebagai media komunikasi lama di tengah berbagai media komunikasi modern. Kakak Pembina juga ingin menanamkan  empati  terhadap perkembangan teknologi komunikasi dari masa ke masa.

Perumusan Tujuan
Untuk mencapai keinginan tersebut, maka tujuan latihan morse dan semapore dapat dirumuskan dengan menggunakan kata kerja operasiona sbb :
  1. Peserta didik mampu mendemontrasikan morse dan semaphore sebagai media komunikasi secara benar (ranah psikomotorik - memanipulasi)
  2. Peserta didik mampu membandingkan morse dan semaphore sebagai media komunikasi lama dengan berbagai perangkat media komunikasi baru seperti handphone, radio, telepon, dll. (ranah kognitif - pemahaman)
  3. Peserta didik  mampu mengubah perilakunya dalam menggunakan media berkomunikasi agar lebih tepat guna dan berdaya guna, tidak boros, tidak berbohong/jujur dalam berkomunikasi, jelas dalam berkomunikasi, dll (ranah  afektif - menghayati)
Materi & Metode
Dengan menetapkan tujuan seperti di atas maka Kakak Pembina dengan sendirinya akan melatih morse dan semaphore tidak sekedar bisa terampil tetapi juga berupaya untuk menyajikan materi morse dan semaphore dibandingkan dengan media komunikasi modern. Agar menarik perbandingan-perbandingan itu dilakukan dengan metode permainan, studi kasus, demonstrasi, dsb.

Ilustrasi di atas menunjukan bahwa agenda latihan yang sama akan dapat dikembangkan dengan materi dan metode yang berbeda karena adanya variasi tujuan yang ingin dicapai.


Selamat memandu dengan penuh inovasi. Salam Pramuka


Lihat topik/Entru terkait :

Sumber :
ART Gerakan Pramuka (Keputusan Kwarnas Gerakan Pramuka No. 203 tahun 209)
http://www.psb-psma.org
http://www/id.wikipedia.org
http://www.file.upi.edu

Jumat, 31 Mei 2013

Taksonomi Blomm : Alat Bantu Merumuskan Tujuan Latihan Kepramukaan




Tujuan Pendidikan Kepramukaan
Tujuan Pendidikan Kepramukaan, sebagaimana tercantum dalam pasal 4  Anggaran Rumah Tangga Gerakan Pramuka (Keputusan Kwarnas Gerakan Pramuka No. 203 tahun 209) adalah : terwujudnya kaum muda lndonesia yang dipersiapkan menjadi:
  • Manusia yang berwatak, berkepribadian, berakhlak mulia, tinggi kecerdasan dan keterampilannya serta sehat jasmaninya;
  • Warga Negara yang berjiwa Pancasila, setia dan patuh kepada Negara Kesatuan Republik lndonesia serta menjadi anggota masyarakat yang baik dan berguna, yang dapat membangun dirinya sendiri secara mandiri serta bersama-sama bertanggungjawab atas pembangunan bangsa dan negara, memiliki kepedulian terhadap sesama hidup dan alam lingkungan baik tingkat lokal, nasional, maupun internasional.
Untuk mencapai tujan besar tersebut maka terdapat pula tujuan pendidikan untuk tiap satuan seperti tujuan pendidikan Pramuka Siaga, tujuan pendidikan Pramuka Penggalang, tujuan pendidikan Pramuka Penegak dan Pandega, tujuan pendidikan satuan karya, tujuan Dewan Kerja, dsb. Tujuan pendidikan di tiap satuan tersebut selanjutnya diterjemahkan dalam tujuan pembinaan atau latihan mingguan dan tujuan kegiatan. Dengan demikian tujuan pendidikan kepramukaan hanya bisa dicapai manakala tujuan pendidikan di tingkat satuan dan tujuan pendidikan ditiap latihan atau kegiatan juga tercapai.

Banyak cara yang bisa dilakukan oleh para Pembina Pramuka dalam menyusun tujuan latihan mingguan atau tujuan kegiatan. Salah satu cara yang bisa dijadikan rujukan dalam penyusunan tujuan latihan adalah dengan menggunakan Taksonomi Blomm. 

Taksonomi Blomm 
Taksonomi adalah gambaran tingkatan atau klasifikasi perilaku manusia yang dapat dikembangkan melalui proses pendidikan sehingga dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak baik menjadi baik,  dari tidak terampil menjadi terampil.

Taksonomi Bloom merujuk pada taksonomi yang dibuat untuk merumuskan tujuan pendidikan. Taksonomi ini pertama kali dikenalkan oleh  Benjamin S. Bloom pada tahun 1956. Dalam taksonomi ini  setiap tujuan pendidikan dibagi menjadi beberapa domain (ranah, kawasan) dan setiap domain tersebut dibagi kembali lebih rinci berdasarkan hirarkinya.

Tujuan Pendidikan
Berdasarkan taksonomi Bloom tujuan  pendidikan dibagi ke dalam tiga domain, yaitu:
  • Cognitive Domain (Ranah Kognitif), yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir.
  • Affective Domain (Ranah Afektif) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri.
  • Psychomotor Domain (Ranah Psikomotor) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik seperti tulisan tangan, mengetik, berenang, dan mengoperasikan mesin.
Terdapat pula beberapa istilah lain yang digunakan untuk menggambarkan ketiga domian tersebut di atas, seperti yang diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantoro,  denga sitilah  cipta, rasa, dan karsa. Selain itu, juga dikenal istilah: penalaran, penghayatan, dan pengamalan.

Dari setiap ranah tersebut dibagi kembali menjadi beberapa kategori dan subkategori yang berurutan secara hirarkis (bertingkat), mulai dari tingkah laku yang sederhana sampai tingkah laku yang paling kompleks. Tingkah laku dalam setiap tingkat diasumsikan menyertakan juga tingkah laku dari tingkat yang lebih rendah, seperti misalnya dalam ranah kognitif, untuk mencapai “pemahaman” yang berada di tingkatan kedua juga diperlukan “pengetahuan” yang ada pada tingkatan pertama.


Hirarki Taksonomi Bloom
Hirarki atau  pemisahan domain ini hanya buatan untuk memudahkan merumuskan tujuan pendidikan dan haisl akhir pendidikannya yang diinginkan agar lebih fokus. Hal itu karena pada dasarnya “manusia merupakan suatu kebulatan yang tidak dapat dipecah-pecah sehingga segala tindakannya juga merupakan suatu  bulatan”.

1. Domain Kognitif 
Bloom membagi domain kognisi ke dalam 6 tingkatan. Domain ini terdiri dari dua bagian:  Bagian pertama berupa Pengetahuan (kategori 1) dan bagian kedua berupa Kemampuan dan Keterampilan Intelektual (kategori 2-6) 
  • Pengetahuan (Knowledge) : Berisikan kemampuan untuk mengenali dan mengingat peristilahan, definisi, fakta-fakta, gagasan, pola, urutan, metodologi, prinsip dasar, dsb. Sebagai contoh, ketika diminta menjelaskan manajemen kualitas, orang yg berada di level ini bisa menguraikan dengan baik definisi dari kualitas, karakteristik produk yang berkualitas, standar kualitas minimum untuk produk. 
  • Aplikasi (Application) : Di tingkat ini, seseorang memiliki kemampuan untuk menerapkan gagasan, prosedur, metode, rumus, teori, dsb di dalam kondisi kerja. Sebagai contoh, ketika diberi informasi tentang penyebab meningkatnya reject di produksi, seseorang yg berada di tingkat aplikasi akan mampu merangkum dan menggambarkan penyebab turunnya kualitas dalam bentuk fish bone diagram. 
  • Analisis (Analysis) : Di tingkat analisis, seseorang akan mampu menganalisis informasi yang masuk dan membagi-bagi atau menstrukturkan informasi ke dalam bagian yang lebih kecil untuk mengenali pola atau hubungannya, dan mampu mengenali serta membedakan faktor penyebab dan akibat dari sebuah skenario yg rumit. Sebagai contoh, di level ini seseorang akan mampu memilah-milah penyebab meningkatnya reject, membanding-bandingkan tingkat keparahan dari setiap penyebab, dan menggolongkan setiap penyebab ke dalam tingkat keparahan yg ditimbulkan.  
  • Sintesis (Synthesis) : Satu tingkat di atas analisis, seseorang di tingkat sintesa akan mampu menjelaskan struktur atau pola dari sebuah skenario yang sebelumnya tidak terlihat, dan mampu mengenali data atau informasi yang harus didapat untuk menghasilkan solusi yg dibutuhkan. Sebagai contoh, di tingkat ini seorang manajer kualitas mampu memberikan solusi untuk menurunkan tingkat reject di produksi berdasarkan pengamatannya terhadap semua penyebab turunnya kualitas produk.   
  • Evaluasi (Evaluation) : Dikenali dari kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap solusi, gagasan, metodologi, dsb dengan menggunakan kriteria yang cocok atau standar yg ada untuk memastikan nilai efektivitas atau manfaatnya. Sebagai contoh, di tingkat ini seorang manajer kualitas harus mampu menilai alternatif solusi yg sesuai untuk dijalankan berdasarkan efektivitas, urgensi, nilai manfaat, nilai ekonomis, dsb.

2. Domain Afektif
Pembagian domain ini disusun Bloom bersama dengan David Krathwol, yang terdiri dari :
  • Penerimaan (Receiving/Attending) : Kesediaan untuk menyadari adanya suatu fenomena di lingkungannya. Dalam pengajaran bentuknya berupa mendapatkan perhatian, mempertahankannya, dan mengarahkannya.
  • Tanggapan (Responding) : Memberikan reaksi terhadap fenomena yang ada di lingkungannya. Meliputi persetujuan, kesediaan, dan kepuasan dalam memberikan tanggapan.  
  • Penghargaan (Valuing) : Berkaitan dengan harga atau nilai yang diterapkan pada suatu objek, fenomena, atau tingkah laku. Penilaian berdasar pada internalisasi dari serangkaian nilai tertentu yang diekspresikan ke dalam tingkah laku.  
  • Pengorganisasian (Organization) : Memadukan nilai-nilai yang berbeda, menyelesaikan konflik di antaranya, dan membentuk suatu sistem nilai yang konsisten. 
  • Karakterisasi Berdasarkan Nilai-nilai (Characterization by a Value or Value Complex) : Memiliki sistem nilai yang mengendalikan tingkah-lakunya sehingga menjadi karakteristik gaya-hidupnya.
     
3. Domain Psikomotor
Rincian dalam domain ini tidak dibuat oleh Bloom, tapi dibuat oleh ahli lain Simpson (1966) (Arikunto, 2009) dengan tetap mengacu pada apa yang telah dibuat Bloom
  • Persepsi (Perception) : Penggunaan alat indera untuk menjadi pegangan dalam membantu gerakan.
  • Kesiapan (Set) : Kesiapan fisik, mental, dan emosional untuk melakukan gerakan.  
  • Guided Response (Respon Terpimpin) : Tahap awal dalam mempelajari keterampilan yang kompleks, termasuk di dalamnya imitasi dan gerakan coba-coba. 
  • Mekanisme (Mechanism) : Membiasakan gerakan-gerakan yang telah dipelajari sehingga tampil dengan meyakinkan dan cakap. 
  • Respon Tampak yang Kompleks (Complex Overt Response) : Gerakan motoris yang terampil yang di dalamnya terdiri dari pola-pola gerakan yang kompleks. 
  • Penyesuaian (Adaptation) : Keterampilan yang sudah berkembang sehingga dapat disesuaikan dalam berbagai situasi.
  • Penciptaan  (Origination) : Membuat pola gerakan baru yang disesuaikan dengan situasi atau permasalahan tertentu.

Kata Kerja Operasional
Kata Kerja Operasional adalah "kata-kata" yang dapat dijadikan sebagai alat bantu  untuk merumuskan tujuan pendidikan. Kata Kerja Operasional mencerminkan  perubahan perilaku yang diinginkan setelah peserta didik mengikuti latihan kepramukaan. Kata kerja operasional juga  dapat diukur sehingga dapat dijadikan sebagai alat evaluasi atau bahan observasi. (selengkapnya lihat, entri/topik : Kata Kerja Operasional alat Bantu Merumuskan Tujuan Latihan Kepramukaan)


Lihat topik/Entru terkait :


Sumber :
ART Gerakan Pramuka (Keputusan Kwarnas Gerakan Pramuka No. 203 tahun 209)



Lord Baden-Powell : Pesan Terakhir





Pandu-pandu yang kucinta :

Jika kamu pernah melihat sandiwara “Peter Pan”, maka kamu akan ingat, mengapa pemimpin bajak laut selalu membuat pesan-pesannya sebelum ia meninggal, karena ia takut, kalau-kalau ia tak akan sempat lagi mengeluarkan isi hatinya, jika saat ia menutup matanya telah tiba.

Demikianlah halnya dengan diriku.
Meskipun waktu ini aku belum akan meninggal, namun saat itu akan tiba bagiku juga.
Oleh karena itu aku ingin menyampaikan kepadamu sekedar kata perpisahan untuk minta diri ...

Ingatlah, bahwa ini adalah pesanku yang terakhir bagimu.
Oleh karena itu renungkanlah!

Hidupku adalah sangat bahagia dan harapanku mudah-mudahan kamu sekalian masing-masing juga mengenyam kebahagiaan dalam hidupmu seperti aku.

 Saya yakin, bahwa Tuhan menciptakan kita dalam dunia yang bahagia ini untuk hidup berbahagia dan bergembira. Kebahagiaan tidak timbul dari kekayaan, juga tidak dari jabatan yang menguntungkan, ataupun dari kesenangan bagi diri sendiri.

Jalan menuju kebahagiaan ialah membuat dirimu lahir dan batin sehat dan kuat pada waktu kamu masih anak-anak, sehingga kamu dapat berguna bagi sesamamu dan dapat menikmati hidup,
jika kamu kelak telah dewasa.

Usaha menyelidiki alam akan menimbulkan kesadaran dalam hatimu,
betapa banyaknya keindahan dan keajaiban yang diciptakan oleh Tuhan di dunia ini supaya kamu dapat menikmatinya!

Lebih baik melihat kebagusan-kebagusan pada suatu hal dari pada mencari kejelekan-kejelekannya. Jalan nyata yang menuju ke kebahagiaan ialah membahagiakan orang lain. Berusahalah agar supaya kamu dapat meninggalkan dunia ini dalam keadaan yang lebih baik daripada tatkala kamu tiba di dalamnya.

Dan bila giliranmu tiba untuk meninggal, maka kamu akan meninggal dengan puas,
karena kamu tak menyia-nyiakan waktumu, akan tetapi kamu telah mempergunakannya
dengan sebaik-baiknya.

Sedialah untuk hidup dan meninggal dengan bahagia.
Masukkanlah paham itu senantiasa dalam Janji-Pandumu -
meskipun kamu sudah bukan kanak-kanak lagi -
 dan Tuhan akan berkenan mengaruniai pertolongan padamu dalam usahamu.



Temanmu,

Baden-Powell of Gilwell
(Ditemukan diantara kertas-kertas Baden-Powell sepeninggalnya, pada 8 Januari 1941).




Lihat topik/entri terkait :
Lord Baden-Powell of Gilwell 1857-1941 : Bapak Pandu Dunia


Sumber :
"Memandu untuk Putra" Kwarnas Gerakan Pramuka, Jakarta 1982

Lord Baden-Powell of Gilwell (1857-1941) : Bapak Pandu Dunia



Pengantar
Untuk dapat mengenal Gerakan Kepanduan lebih dalam, maka harus tahu tentang orang yang mendirikan Gerakan Kepanduan, salah seorang yang sungguh-sungguh dapat disebut “boy-man” (orang dewasa bersemangat muda), yang pemah ada di dunia yaitu Lord Baden-Powell of Gilwell, Bapak Pandu Sedunia, sangat terkenal oleh semua Pandu sebagai “BP”.

Robert Stephenson Smyth Baden-Powell dilahirkan di London, Inggris, pada 22 Februari 1857 – ialah hari di mana orang-orang Amerika merayakan hari ulang tahun George Washington yang ke-125. Ayahnya iahh Domine H.G. Baden-Powell, Profesor di Oxford. Ibunya adalah putri Admiral Inggris W.T. Smyth. Moyangnya, tetapi kembali ke Inggris dan mendapat kecelakaan di laut dalam perjalanannya pulang. Jadi Baden-Powell itu dari pihak satu adalah keturunan seorang alim dan dari pihak yang lain dari seorang kolonis di Dunia Baru, yang penuh pengalaman. 

Masa Muda “BP”
Ayahnya meninggal ketika Robert kurang lebih berumur tiga tahun, meninggalkan ibunya dengan tuiuh anak di bawah umur empat belas tahun. Sering kali keluarga yang besar itu mengalami kesukaran-kesukaran, tetapi berkat cinta kasih sang ibu terhadap anak-anaknya, dan cinta kasih anak-anak terhadap ibunya, segala kesulitan dapat diatasi. Dengan keempat saudaranya laki-laki Robert mengalami hidup gilang-gemilang, di alam luar dengan jalan mengembara dan berkemah di berbagai tempat di Inggris.

Pada tahun 1870 B.P. masuk Charterhouse School di London dengan bea siswa. Ia bukan seorang pelajar yang luar biasa, tetapi ia adalah salah seorang yang giat. Ia selalu menjadi pusat perhatian, yang memegang peranan, jika ada sesuatu di halaman sekolah, dan segera menjadi terkenal karena kecakapannya sebagai keeper kesebelasan Charterhouse. Kecakapannya bermain sandiwara sangat digemari oleh teman-temannya sekolah. Sewaktu-waktu diminta, ia mengadakan suatu pertunjukan, yang akan menggemparkan seluruh sekolah. Ia juga gemar akan musik dan bakatnya akan menggambar kemudian memungkinkannya menghiasi karangan-karangannya sendiri.

“BP” di India
Pada usia 19 tahun B.P. tamat belajar pada Charterhouse dan segera sesudah ada kesempatan, ia pergi ke India sebagai pembantu letnan, dan masuk resimen, yang membentuk sayap kanan dari barisan berkuda dalam "Charge of the Light Brigade" yang terkenal dalam Perang Krim. Kecuali menjalankan tugas kewajibannya yang gilang-gemilang dalam ketentaraan – ia menjadi Kapten pada usia dua puluh enam tahun – itu memperoleh piala olah raga yang sangat dihargai diseluruh India – yang untuk “pigsticking”, ialah memburu babi hutan, berkuda dengan sebuah tombak pendek sebagai satu-satunya senjata. Kamu akan sadar, betapa besar bahayanya pemburuan ini, kalau tahu, bahwa babi hutan sering dikatakan sebagai ”satu-satunya binatang, yang berani minum air bersama-sama dengan seekor harimau dari satu telaga.”

Berperang di Afrika
Pada tahun 1887 kita mendapatkan B.P. di Afrika, ikut serta dalam serangan terhadap orang-orang Zulu dan kemudian terhadap suku-suku bangsa Ashanti yang buas dan prajurit-prajurit Matabele yang kejam. Penduduk di situ begitu takut kepadanya, sehingga ia diberi sebutan ”Impeesa”, serigala yang tak pernah tidur, karena keberaniannya, kepandaiannya akan menyuluh serta kecakapannya akan menemukan jejak-jejak yang menggemparkan itu. Kenaikan pangkat Baden-Powell hampir diperoleh secara automatis, begitu teraturlah terjadinya sampai tiba-tiba ia menjadi termashur. 

Pada 1899 B.P. naik pangkat menjadi Kolonel
Di Afrika Selatan kesukaran makin hari makin bertambah. Hubungan antara pemerintah Inggris dan pemerintah republik Transval telah memuncak pada titik perpecahan. Baden-Powell diperintahkan supaya membentuk dua batalyon pemburu berkuda dan terus berangkat ke Mafeking, sebuah kota ditengah-tengah Afrika Selatan. “Siapa menduduki Mafeking, berkuasa di Afrika Selatan”, ujar orang-orang penduduk asli yang terbukti benar juga.

Pengepungn Mafeking
Perang pecah dan selama 217 hari – dari 13 Oktober 1899 - B.P. menduduki Mafeking dalam pengepungan oleh musuh, yang jumlahnya jauh lebih besar, sampai akhirnya pasukan-pasukan yang datang memberi pertolongan dapat menerobos jalan pada tanggal 18 Mei 1900.

Selama itu negeri Inggris menanti kesudahannya dengan rasa khawatir. Akhirnya, ketika datanglah berita: "Mafeking telah tertolong" maka negeri itu sangatlah gembira. Carilah “Mafeking” dalam kamusmu Bahasa Inggris, maka kamu akan mendapatkan disamping perkataan itu dua buah kata, terjelma pada hari yang penuh kegemparan itu, dari mana kota di Afrika Selatan," ujar orang-orang penduduk asli yang terbukti "riot-like celebration" atau "perayaan yang menggemparkan.B.P., yang sekarang telah naik pangkat menjadi Jenderal Mayor, adalah seorang pahlawan bangsanya.

Kepanduan Dilahirkan
Pada 1901 ia kembali sebagai seorang pahlawan ke Inggris dari Afrika Selatan, penuh dengan kehormatan dan ternyata inilah yangmenjadi keheranannya, bahwa terkenalnya sebagai perseorangan menyebabkan terkenalnya bukunya untuk orang-orang tentara, yaitu “Aids to Scouting” atau “Pedoman untuk Memandu”. Buku itu dipakai sebagai bacaan pada sekolah-sekolah laki-laki.

Di sini B.P. menyadari suatu panggilan. Ia sadar, bahwa disinilah ia mempunyai kesempatan akan menolong anak-anak negaranya supaya tumbuh menjadi orang yang kuat. Sebuah buku tentang Kepanduan bagi orang-orang laki-laki saja sudah dapat memanggil serta mendorong anak-anak, apalagi sebuah buku yang semata-mata ditulis bagi anak-anak itu sendiri!

Ia mulai bekerja dengan mempraktekkan pengalaman-pengalamannya di India dan di Afrika di antara orang Zulu dan suku-suku buas lain. Ia mengumpulkan suatu perpustakaan yang khusus dan membaca buku-buku mengenai latihan-latihan dari abad ke abad – dari anak-anak Sparta, orang-orang Inggris jaman dahulu, orang-orang Indian, sampai jaman sekarang ini.

Sedikit demi sedikit serta dengan seksama B.P. memperkembangkan pikiran akan Kepanduan. Ia hendak meyakinkan, bahwa pikirannya itu akan ada hasilnya juga, oleh karena itu pada musim panas tahun 1907 ia mengajak segerombolan dari duapuluh orang anak ke Brownsea Island di Terusan Inggris akan mengadakan perkemahan kepanduan pertama, yang pernah dilihat oleh dunia. Perkemahan itu terselenggara dengan hasil yang sangat baik.

“Scouting for Boys”
Dan kemudian, pada permulaan tahun 1908, tiga bulan sekali ia menerbitkan buku pedomannya untuk latihan-latihan, "Scouting for Boys", yang dihiasi, oleh ia sendiri - dengan tidak menyangka-nyangka, bahwa buku ini akan menimbulkan suatu Gerakan, yang meliputi anak-anak seluruh Dunia.
Baru saja buku "Scouting for Boys" ini mulai muncul dalam toko-toko buku serta tempat-tempat penjualan surat-surat kabar, mulailah timbul Regu-regu serta Pasukan-pasukan Kepanduan – bahkan  tidak di Inggris saja, melainkan dibanyak negeri-negeri lain.

Kehidupan B.P. Yang Kedua
Pergerakan makin hari makin berkembang dan pada tahun 1910 menjadi demikian luasnya, sehingga B.P. sadar, bahwa Kepanduan akan menjadi pekerjaannya selama hidup. Ia mempunyai pandangan serta keyakinan akan menyadari, bahwa ia akan lebih berjasa lagi bagi tanah airnya, apabila ia melatih para muda supaya menjadi warga negara utama, daripada melatih beberapa orang agar kelak dapat berperang. Dan oleh karena itu ia meletakkan jabatannya dalam ketentaraan, di mana ia telah menjadi Letnan Jenderal dan memasuki ”hidupnya kedua”, seperti disebutnya - hidupnya dalam pengabdian kepada dunia karena Kepanduan. Ia memetik buah usahanya dalam perkembangan pergerakan Kepanduan dan dalam cinta serta hormat anak-anak di seluruh dunia.

Persaudaraan Sedunia
Pada tahun 1912 ia mengadakan perjalanan keliling dunia untuk menemui para Pandu di berbagai negara. Ini adalah permulaan Kepanduan sebagai Persaudaraan Sedunia. Perang Dunia Pertama meletus dan memperhentikan pekerjaan ini sementara, tetapi dengan berakhirnya permusuhan, telah dimulai lagi, dan pada tahun 1920 para Pandu dari seluruh dunia berkumpul di London untuk pertemuan Kepanduan Internasional yang pertama - Jambore Se-dunia pertama. Pada malam yang terakhir dari Jambore itu, yaitu pada tanggal Agustus, B.P. diangkat menjadi “Chief Scout of the World”, “Bapak Pandu Seluruh Dunia” disambut dengan tepuk sorak riuh rendah oleh anak-anak yang berkumpul.

Pergerakan Kepanduan terus berkembang. Pada waktu mencapai umur duapuluh satu tahun, jadi ketika sudah menjadi “dewasa”, jumlah anggotanya, boleh dikatakan dinegara-negara di seluruh dunia yang sudah beradab mencapai lebih dari dua juta. Pada peristiwa itu B.P. dianugrahi oleh rajanya, George V, dengan julukan baron dengan nama Lord Baden-Powell of Gilwell ........ Meskipun demikian, bagi setiap pandu ia akan tetap: ,”B.P”, Bapak Pandu Seluruh Dunia.

Jambore sedunia yang pertama diikuti oleh Jambore-jambore lain – pada 1924 di Denmark, pada 1929 di Inggris, pada 1933 di Hongaria, pada 1937 di Negeri Belanda. Pada tiap-tiap Jambore itu Baden-Powell memegang peranan, dengan semangat dihormati oleh --- anak-anak-"nya", kemanapun ia pergi. Tetapi Jambore itu hanya merupakan sebagian dari usaha ke arah Persaudaraan Kepanduan Sedunia. B.P. sering kali bepergian untuk kepentingan Kepanduan, ia selalu mengadakan surat-menyurat dengan para Peminpin pandu diberbagai-bagai negara dan terus menulis tentang Kepanduan serta menghiasi karangan-karangannya dan buku-bukunya dengan gambarannya sendiri.

Masa Tua B.P.
Ketika akhirnya, setelah mencapai usaha delapan puluh tahun, kekuatannya mulai berkurang, ia kembali ke Afrika yang dicintainya, dengan isterinya, Lady Baden-powell, yang menjadi pembantunya yang bersemangat dalam segala usahanya dan menjadi pemimpin sendiri dari Kepanduan Putri Sedunia - suatu pergerakan yang dimulai juga oleh Baden-Powell. Mereka bertempat tinggal di Kenya, dalam suatu tempat yang tentram, dengan suatu pemandangan yang indah melalui rimba-rimba yang sangat luas, menuju puncak-puncak gunung yang tertutup salju.
Disanalah B.P. meninggal dunia pada tanggal 8 Januari 1941 – sebulan lebih sedikit sebelum ulang tahunnya kedelapan puluh empat.


Sumber :
"Memandu Untuk Putra"  Kwarnas Gerakan Pramuka, Jakarta 1982

Jumat, 24 Mei 2013

Dongeng Boneka sebagai Media Pendidikan Kepramukaan




Pengantar

Perkembangan zaman melahirkan tuntutan, aspirasi, motivasi dan harapan-harapan  baru  para peserta didik dalam mengikuti kegiatan kepramukaan. Para Pembina Pramuka diharapkan mampu memenuhi tuntutan tersebut dengan terus-menerus melakukan inovasi agenda,  metode dan penggunaan media latihan kepramukaan. Tanpa upaya seperti itu akan menyebabkan hilangnya antusiasismenya peserta didik dalam mengikuti kegiatan dan latihan pramuka.

Mendongeng dengan boneka merupakan salah satu media pendidikan yang bisa digunakan oleh para Pembina Pramuka untuk menghadirkan latihan pramuka yang menyenangkan dan menggairahkan. Pemakaian boneka sebagai media pendidikan populer sejak tahun 1940-an terutama ketika mulai banyak digunakan di sekolah dasar dan sekolah lanjutan di Amerika. Bahkan di daratan Eropa seni pembuatan boneka telah sangat tua, lebih tinggi kehaliannya  dan sangat populer penggunaanya sebagai media pendidikan di bandingkan di Amerika.

Di Indonesia penggunaan boneka sebagai media pendidikan massa juga sudah sejak lama dilakukan di tengah masyarakat. Di Jawa Barat dikenal dengan tradisi boneka tongkat berbentuk “Wayang Golek” yang dipakai untuk memainkan dan menyampaikan pesan-pesan moral cerita Mahabarata dan Ramayana. Di Jawa Timur dan Jawa Tengah dikenal pula boneka tongkat dengan dua dimensi dibuat dari kayu yang disebut “Wayang Krucil”. Di dua wilayah ini dikenal pula boneka bayang-bayang yang disebut “Wayang Kulit”. Disamping itu terdapat  berbagai jenis tradisi cerita lain berbasis boneka yang tersebar di seluruh nusantara.


Boneka sebagai Media Pembelajaran

Boneka adalah tiruan dari bentuk manusia dan bentuk  binatang. Boneka manusia merupakan model dari manusia, atau yang menyerupai manusia sangat banyak bentuk dan ragamnya. Boneka  hewan merupakan model dari hewan dengan beragam bentuk dan perbandingan. Awalnya  boneka hanya merupakan benda dekorasi atau koleksi untuk anak yang sudah besar atau orang dewasa dan sebagai media permainan untuk anak-anak perempuan.

Bentuk boneka yang sangat menarik minat anak-anak melahirkan ide penggunaan boneka sebagai media pembelajaran dengan cara dimainkan dalam sandiwara boneka. Boneka sebagai media cerita memiliki banyak kelebihan dan keuntungan. Anak-anak  pada umumnya menyukai boneka, sehingga cerita  yang dituturkan lewat karakter boneka jelas akan mengundang minat dan perhatiannya. Anak-anak juga bisa terlibat dalam permainan boneka dengan ikut memainkan boneka dalam sebuah dongeng atau cerita. Hal ini berarti, boneka bisa menjadi pengalih perhatian anak  sekaligus media untuk berekspresi  atau  menyatakan  perasaannya.  Bahkan  boneka  bisa  mendorong tumbuhnya fantasi atau imajinasi anak.

Mendongeng dengan alat peraga boneka, memerlukan sedikit keterampilan karena tokoh yang akan dibawakan atau boneka yang dipegang harus sesuai dengan karakter dalam cerita. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan, ketika mendongeng dengan alat peraga boneka:
  • Jarak boneka tangan harus agak jauh dari mulut.
  • Kedua belah tangan harus lentur dalam memainkan boneka.
  • Bisa diiringi dengan musik untuk menambah suasan.
  • Libatkan anak-anak dalam adegan cerita yang dibawakan.
  • Sesekali adakan dialog antara tokoh boneka dan pendengar atau penonton.
  • Suara karakter dari tokoh cerita dongeng harus pas sesuai peran.
  • Ajak pendengar atau penonton bernyanyi bersama boneka guna memperoleh keterikatan dalam cerita dongeng.
  • Seusai mendongeng jangan lupa ulas pesan yang terkandung dalam dongeng tersebut; boneka seolah-olah berbicara pada anak-anak (pendengar atau penonton).


Manfaat Mendongeng dengan Boneka

Manfaat mendongen atai cerita boneka sebagai media pendidikan  sudah sangat banyak dibahas oleh para ahli.  Umumnya para ahli menyatakan bahwa  dongeng  sangat bermanfaat bagi pengembangan anak. Dongen  sebagai media belajar  juga dapat melahirkan suasana belajar yang menyenangkan, interaktf, inspiratif dan motivatif.  Manfaat dongen secara lebih luas adalah :

  • Membantu pembentukan pribadi dan moral anak. Cerita sangat efektif membentuk pribadi dan moral anak. Melalui cerita, anak dapat memahami nilai baik dan buruk yang berlaku pada masyarakat.
  • Menyalurkan kebutuhan imajinasi dan fantasi. Cerita dapat dijadikan sebagai media menyalurkan imajinasi dan fantasi anak. Pada saat menyimak cerita, imajinasi anak mulai dirangsang. Imajinasi yang dibangun anak saat menyimak cerita memberikan pengaruh positif terhadap kemampuan anak dalam menyeelesaikan masalah secara kreatif.
  • Memacu kemampuan verbal anak. Ceritadapat memacu kecerdasan linguistik anak. Cerita mendorong anak bukan saja senang menyimak cerita tetapi juga senang bercerita atau berbicara. Anak belajar tata cara berdialog dan bernarasi.
  • Merangsang minat menulis anak. Anak yang terbiasaa memahami cerita dan lebih awal berkenalan dengan cerita akan memiliki kemampuan menulis dengan baik.
  • Merangsang minat baca anak. Kegiatan bercerita dengan buku menjadi ‘pelatihan” baca yang penting. Cerita akan menumbuhkan minat anak terhadap bacaannya.
  • Membuka cakrawala pengetahuan anak. melalaui cerita anak akan mendapatkan berbagai pengetahuan yang bermanfaat.

Jenis-jenis Boneka sebagai Media Pembelajaran 

Boneka jari

  • Boneka ini dibuat dengan alat sederhana seperti tutup botol, bola pingpong, kapas, dakron, gabus, bambu kecil, dll  yang dapat dipakai sebagai kepala boneka. Sesuai dengan namanya boneka ini dimainkan dengan menggunakan jari tangan. 
  • Cara memainkannya kepala boneka diletakkan pada ujung jari kita/ dalam. Dapat juga dibuat dari semacam sarung tangan, dimana pada ujung jari sarung ta-ngan tersebut sudah berbentuk kepala boneka dan dengan demikian kita/ dalam tinggal memainkannya saja.
      
    Boneka Tangan

    • Kalau boneka dari setiap ujung jari kita dapat memainkan satu tokoh, lain halnya dengan boneka tangan. Pada boneka tangan ini satu tangan kita hanya dapat memainkan satu boneka. Disebut boneka tangan, karena boneka ini hanya terdiri dari kepala dan dua tangan saja, sedangkan bagian badan dan kakinya hanya merupakan baju yang akan menutup lengan orang yang memainkannya disamping cara memainkannya juga hanya memakai tangan (tanpa menggunakan alat bantu yang lain).
    • Cara memainkanya adalah jari telunjuk untuk memainkan atau menggerakkan kepala, ibu jari, dan jari tangan untuk menggerakkan tangan. Di Indonesia penggunaan boneka tangan sebagai media pendidikan/ pembelajaran di sekolah-sekolah sudah dilaksanakan, bahkan dipakai diluar sekolah yaitu pada siaran TVRI dengan film seri boneka “Si Unyil” dan jiuga "Si Komo".
      
    Boneka Tongkat
    • Disebut boneka tongkat karena cara memainkannya dengan menggunakan tongkat. Tongkat-tongkat ini dihubungkan dengan tangan dan tubuh boneka. Wayang Golek di Jawa Barat misalnya adalah termasuk boneka jenis ini.
    • Untuk keperluan penggunaan boneka tongkat sebagai media pendidikan/ pembelajaran di sekolah, maka tokoh-tokohnya dibuat sesuai dengan keadaan sekarang. Misalnya dibuat tokoh tentara, pedagang, lurah, nelayan dan sebagainya Boneka tongkat dapat dibuat darikayu yang lunak seperti kayu kemiri, randu, dan sebagainya.

        Boneka Tali

        • Boneka tali atau “Marionet” banyak dipakai dinegara barat. Perbedaan yang menyolok antara boneka tali dengan boneka yang lain adalah, boneka tali bagian kepala, tangan, dan kaki dapat digerak-gerakkan menurut kehendak kita/dalangnya. 
        • Cara menggerakkannya dengan tali. Dengan demikian maka kedudukan tangan orang yang memain-kannya berada di atas boneka yang dimainkannya. Untuk memainkan boneka tali diperlukan latihan-latihan yang teratur, sebab memainkan boneka tali ini memerlukan keterampilan yang lebih sulit dibandingkan dengan memainkan boneka-boneka yang lainnya. Adakan tetapi memiliki kelebihan lebih hidup dari pada boneka yang lain, karena mendekati gerak manusia atau tokoh yang sebenarnya.

          Boneka Bayang-bayang
          • Boneka bayang-bayang (Sadhow Puppet) adalah jenis boneka yang cara memainkannya dengan mempertontonkan gerak bayang-bayang dari boneka tersebut. Di Indonesia khususnya di Jawa dikenal dengan “Wayang kulit” dengan latar ceita ramayana dan mahabarata.
          • Untuk keperluan pendidikan dapat diciptaka tokoh-tokoh baru dengan nuansa kekinian seperti polisi, tentara, pembina pramuka, orang tua, dsb. Untuk memainkan boneka ini diperlukan ruangan gelap/tertutup dan  lampu sorot untuk membuat bayang-bayang layar.


            Selamat Berekspresi. Salam Pramuka

            Lihat Entri/Topik Terkait :
            Dongeng Boneka Jari sebagai media Pendidikan Kepramukaan
            Dongeng Boneka Tangan sebagai media Pendidikan Kepramukaan
            Dongeng Boneka Tongkat sebagai media Pendidikan Kepramukaan
            Dongeng Boneka Tali sebagai media Pendidikan Kepramukaan
            Dongen Boneka Bayang-bayang sebagai media  Pendidikan Kepramukaan


            Sumber :
            www.griyabelanja.com
            www.satulingkar.com
            www.getscoop.com
            www.tradisidongen.blogspot.com
            www.aaps10.blogspot.com
            www.molylovelyme.blogspot.com














            Selasa, 21 Mei 2013

            Kompas, Penggunaannya dalam Kegiatan Kepramukaan





            Pengantar

            Kompas adalah alat penunjuk arah yang bekerja berdasarkan gaya medan magnet. Pada kompas selalu terdapat sebuah magnet sebagai komponen utamanya. Magnet tersebut biasanya berbentuk sebuah jarum penunjuk. Saat magnet penunjuk tersebut berada dalam keadaan bebas, maka akan mengarah ke utara-selatan magnet bumi. Inilah yang dijadikan dasar dalam pembuatan kompas dan alat navigasi berbasis medan magnet yang lain.

            Umumnya kompas terdiri dari 3 komponen kompas, yaitu badan kompas, jarum magnet, dan skala arah mata angin. Badan kompas berfungsi sebagai pembungkus dan pelindung komponen utama kompas. Jarum magnet dipasang sedemikian rupa agar bisa berputar bebas secara horizontal. Skala penunjuk umumnya berupa lingkaran 360° dan arah mata angin.

            Kompas sebagai alat penunjuk  arah mata angin sangat penting untuk para Pramuka dalam hal :
            • Membantu kelancaran dan keselamatan dalam pengembaraan karena para  Pramuka akan dapat mengikuti jalan yang tertera dalam peta sehingga tidak tersesat dijalan.
            • Membantu menentukan arah kiblat untuk kesempurnaan beribadah di alam bebas/di perkemahan bagi yang beragama Islam.
            • Menentukan arah datangnya sinar matahari untuk menentukan arah mendirikan tenda dan arah lokasi kegiatan di di pagi atau sore hari.
            • Membantu dalam pembuatan dan pembacaan peta pita dan atau peta perjalanan
            • Membaca peta medan atau peta topografi
            Oleh sebab kegunaannya yang sangat beragam tersebut maka para Pramuka seyogyanya memiliki kemampuan untuk menggunakan dan membaca kompas secara benar dan tepat. Disamping itu kegiatan menggunakan dan membaca kompas merupakan kegiatan yang menyenangkan, melatih ketelitian, kerjasama dan pengenalan medan/lokasi di alam bebas.


            Macam dan jenis kompas

            Kompas terdiri dari 3 jenis, yaitu kompas bidik (kompas prisma), kompas orientering (kompas silva), dan kompas biasa.

            • Kompas bidik atau prisma fungsi utamanya untuk mempermudah menghitung sudut sasaran bidik (tempat atau benda) secara langsung. Cara pemakaiannya dengan membidikkan kompas ke sasaran secara langsung sekaligus membaca sudut sasaran pada skala kompas. Besar sudut yang dibuat oleh arah bidikan dan arah jarum (utara) itulah sudut sasarannya (bearing).


            • Kompas silva atau orienteering fungsi utamanya untuk mempermudah perhitungan dan pembacaan pada peta secara langsung. Badan atau pembungkus kompas silva selalu dibuat transparan untuk mempermudah pembacaan peta yang diletakkan di bawahnya.


            • Kompas biasa adalah kompas yang hanya digunakan sebagai penunjuk arah dan bentuknya sederhana.

            Bagian-bagian penting dari Kompas Bidik :
            • Dial, adalah permukaan Kompas dimana tertera angka derajat dan huruf mata angin.
            • Visir, adalah lubang dengan kawat halus untuk membidik sasaran.
            • Kaca Pembesar, digunakan untuk melihat derajat Kompas.
            • Jarum Penunjuk, adalah alat yang menunjuk Utara Magnet.
            • Tutup Dial, dengan dua garis bersudut 45° yang dapat diputar.
            • Alat Penyangkut, adalah tempat ibu jari untuk menopang Kompas saat membidik.

            Cara Mempergunakan Kompas Bidik
            • Letakkan Kompas di atas permukaan yang datar, setelah jarum Kompas tidak bergerak maka jarum tersebut akan menunjukkan ARAH UTARA MAGNET.
            • Bidik sasaran melalui Visir, melalui celah pada kaca pembesar, setelah itu miringkan kaca pembesar kira-kira bersudut 50° dengan kaca dial.
            • Kaca pembesar tersebut berfungsi sebagai : (a) Membidik ke arah Visir, membidik sasaran, (b) Mengintai derajat Kompas pada Dial.
            • Apabila Visir diragukan karena kurang jelas terlihat dari kaca pembesar, luruskan garis yang terdapat pada tutup Dial ke arah Visir, searah dengan sasaran bidik agar mudah terlihat melalui kaca pembesar.
            • Apabila sasaran bidik 30° maka bidiklah ke arah 30°
            • Sebelum menuju sasaran, tetapkan terlebih dahulu Titik sasaran sepanjang jalur 30°.
            • Carilah sebuah benda yang menonjol/tinggi diantara benda lain disekitarnya, sebab rute ke 30° tidak selalu datar atau kering, kadang-kadang berbencah-bencah. Ditempat itu kita Melambung (keluar dari rute) dengan tidak kehilangan jalur menuju 30°.
            • Sebelum bergerak ke arah sasaran bidik, perlu ditetapkan terlebih dahulu Sasaran Balik (Back Azimuth atau Back Reading) agar kita dapat kembali ke pangkalan apabila tersesat dalam perjalanan.

            Rumus back azimuth/back reading

            1.    Apabila sasaran kurang dari 180° = di tambah 180° maka akan menjadi  180° = X + 180°
            2.    Apabila sasaran lebih dari 180° = di kurang 180°
            3.    Contoh : Sasaran balik dari
            • 30°      adalah    :    30° + 180°  = 210°
            • 240°    adalah    :    240° - 180°  = 60°
            • 45°, 34’, 20’’      adalah   : 225°    34’    20’’
            • 178°,  54’ , 14’’  adalah   : 001°    05’    45’’



              Arah mata angin dalam kompas
                • U         =   Utara                           : 0° atau 360°
                • UTL    =   Utara Timur Laut        : 22°     30’
                • TL       =   Timur Laut                  : 45°
                • TTL     =   Timur Timur Laut       : 67°    30’
                • T          =   Timur                          : 90°   
                • TMG    =   Timur Menenggara     : 112°    30’
                • TG       =   Tenggara                      : 135°
                • SMG    =   Selatan Menenggara   : 157°    30’
                • S          =   Selatan                        :180°
                • SBD    =   Selatan Barat Daya     : 202°    30’
                • BD      =   Barat Daya                  : 225°
                • B         =   Barat                           : 270°
                • BBL    =   Barat Barat Laut         : 292°    30’
                • BL       =   Barat Laut                  : 315°
                • UBL    = Utara Barat Laut          : 337°    30’

              Benda-benda lain yang dapat di gunakan untuk menentukan arah Mata Angin :
              • Matahari, terbit di Timur dan terbenam di Barat.
              • Masjid, sebagai kiblat menghadap Barat Laut.
              • Bintang, Rasi-rasi bintang pada malam hari.
              • Kuburan Islam, batu nisan membujur dari Utara Selatan.
              • Silet, jika diapungkan di atas air.

                Selamat Berlatih. Salam Pramuka